Seorang pejabat kesehatan senior yang terlibat dalam pengawasan kasus Nipah di Benggala Barat menyebutkan bahwa sumber penularan paling mungkin berasal dari seorang pasien yang sebelumnya dirawat di rumah sakit yang sama. Pasien tersebut kini diperlakukan sebagai kasus indeks yang masih dalam tahap investigasi.
Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang berasal dari kelelawar buah. Namun, berdasarkan keterangan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), virus ini juga dapat menular ke hewan lain serta menyebar antarmanusia. Tingkat fatalitasnya tergolong tinggi, dengan angka kematian mencapai 40 hingga 70 persen dari total kasus.
Penularan umumnya terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi atau konsumsi buah yang terkontaminasi. Gejala biasanya muncul dalam waktu hingga 14 hari, diawali demam, sakit kepala, batuk, nyeri tenggorokan, dan gangguan pernapasan. Dalam kondisi tertentu, infeksi dapat berkembang menjadi ensefalitis atau pembengkakan otak yang berisiko menimbulkan kejang hingga koma.
Hingga kini, belum tersedia obat khusus untuk mengobati virus Nipah.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga India membantah laporan yang menyebutkan adanya lonjakan kasus. Pemerintah India menyatakan sebanyak 196 orang yang memiliki kontak erat dengan pasien terkonfirmasi telah diidentifikasi, dipantau, dan menjalani tes. Seluruhnya dinyatakan tidak bergejala dan hasil tes menunjukkan negatif virus Nipah.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)