AKIBAT perang dan krisis yang sedang terjadi di Gaza, Komite Palang Merah Internasional (ICRC) dan 12 Perhimpunan Nasional Palang Merah menggabungkan upaya untuk membuka rumah sakit lapangan di Rafah untuk membantu mengatasi kebutuhan medis yang sangat besar.
Komite Internasional Palang Merah (ICRC) adalah organisasi dengan mandat kemanusiaan khusus berdasarkan Konvensi Jenewa 1949. Komite ini membantu orang-orang di seluruh dunia yang terdampak konflik bersenjata dan kekerasan lainnya, dengan berupaya melindungi kehidupan serta meringankan penderitaan mereka. Seringkali, ICRC bekerja sama dengan mitra dari Palang Merah dan Bulan Sabit Merah.
Melansir dari ICRC Jumat (17/5/2024) rumah sakit lapangan dengan kapasitas 60 tempat tidur dibangun oleh Komite Palang Merah Internasional (ICRC) dan 12 Perhimpunan Nasional Palang Merah untuk mendukung dan melengkapi upaya Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS).
Rumah sakit ini akan menyediakan layanan berupa bedah darurat, perawatan kebidanan atau ginekologi, ibu dan bayi baru lahir, perawatan anak, serta layanan rawat jalan. Tim rumah sakit lapangan akan terdiri dari sekitar 30 ahli dari berbagai Perhimpunan Nasional (atau cabangnya), staf residen, dan ICRC.
Tim ini akan mencakup beragam tim medis profesional seperti ahli bedah, dokter, ahli anestesi, perawat, teknisi medis, insinyur, ahli logistik, dan administrator. Mereka akan bekerja bersama untuk menyediakan perawatan medis yang diperlukan dan mengelola operasi rumah sakit lapangan dengan efisien selama masa konflik atau dalam situasi darurat kesehatan.
Rumah sakit lapangan ICRC ini didukung oleh Perhimpunan Palang Merah Australia, Austria, Kanada, Denmark, Finlandia, Jerman, Hong Kong (Tiongkok), Islandia, Jepang, Norwegia, Swiss, dan Inggris. Rumah sakit ini akan memberikan perawatan medis untuk sekitar 200 orang setiap harinya.
Selama ini, para staf medis menghadapi tantangan dari pasien-pasien dengan luka parah, peningkatan penyakit menular yang berpotensi menyebabkan wabah, serta komplikasi dari penyakit kronis yang tidak terobati dengan baik.
Amputasi dan infeksi pernafasan akut sering terjadi, demikian juga dengan penyakit pencernaan dan penyakit kulit yang menyebar cepat di antara pengungsi karena kekurangan air bersih, sanitasi, dan akses terhadap makanan.