Lasmi tidak menyangka jika hidupnya kini bisa berubah. Berawal dari menjual dengan digendong, Lasmi kini bisa mendapatkan 'lapak' sendiri di sejumlah kementrian dan layanan kesehatan lainnya.
Saat ditemui Okezone, Lasmi berkisah bahwa dirinya mulai menjual jamu secara digendong saat usianya yang masih belia. Masa remajanya dihabiskan hanya untuk belajar membuat jamu dan bertahan hidup demi menghidupi keluarga.
Untuk melestarikan jamu miliknya, Lasmi mengaku selalu menggunakan bahan alami dan menjaga kualitasnya. Dimulai dengan usaha jamu gedong di Surabaya, hingga pada 1993 Lasmi memutuskan untuk pindah ke Jakarta.
"Saya di umur 16 tahun itu merantau ke Surabaya, jualan jamu di sana secara digendong atau biasa disebut jamu gendong, namun belum bisa berhasil dan saya diajak kakak ke Jakarta," tuturnya.
Di Ibu Kota, Laksmi terus menjajakan jamu secara gendong. Seiring dengan perkembangan zaman, pola penjualannya pun berubah dengan memanfaatkan sepeda.
Kesempatan Lasmi semakin terbuka lebar setelah menjuarai kontes pemilihan ratu jamu gendong yang diselenggarakan oleh sebuah produsen jamu. Saat itu, Lasmi menyabet gelar Juara Jamu Gendong Teladan.
Seakan kacang yang tidak kulitnya, semangat ingin maju Lasmi pun ditularkan kepada rekan profesi jamu gendong lainnya. Dia pun membentuk Paguyuban Jamu Gendong Lestari dan Lasmi menjadi Ketuanya.
"Di situ saya memberikan motivasi kepada ibu-ibu penjual jamu gendong lainnya. (Dengan berjualan gendong) hanya bisa membawa 10 botol, saya berikan kesempatan agar mereka bisa membuat jamu berjumlah ratusan hingga ribuanbotol. Tujuannya ibu-ibu jamu gendong ini bisa mewujudkan apa yang dicita-cita dan bisa menambah pendapatan lebih banyak lagi," tuturnya.
Tidak hanya itu, Lasmi pun bersyukur dengan pencapaian jamu yang kini sudah diakui dunia. Menurutnya, pengakuan tersebut sangat besar manfaatnya untuk semakin memperkenalkan jamu kepada semua kalangan.