OBAT statin umumnya diresepkan dokter untuk orang-orang yang memiliki masalah kadar kolesterol tinggi.
Konsumsi obat ini tak hanya sebagai upaya penanganan, tapi juga sekaligus perawatan untuk menjaga kadar kolesterol dalam darah bisa tetap stabil. Terkait obat statin dan pengidap kolesterol tinggi, ada anggapan obat ini harus dikonsumsi seumur hidup.
Lantas apakah benar kalau orang dengan kolesterol tinggi harus minum obat statin untuk seumur hidup? Dijelaskan Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Mayapada Hospital Kuningan, dr. Olivia Handayani, Sp.JP, pada beberapa pasien dengan kolesterol tinggi, konsumsi obat statin memang nyatanya harus dilakukan seumur hidup.
Contohnya, untuk kelompok orang dengan riwayat serangan jantung, pernah memakai ring jantung, pengidap diabetes melitus, stroke, atau orang yang berusia lanjut. Inilah kelompok khusus yang memang disarankan minum obat statin seumur hidup.
"Karena diminum seumur hidup, banyak orang beranggapan itu artinya kolesterol tinggi tidak bisa disembuhkan sepenuhnya. Ini anggapan yang tidak sepenuhnya benar," kata dr Olivia dalam siaran Instagram Live Okezone “Kenali Kolesterol Tinggi”, baru-baru ini.
Pasalnya, jika penderita kolesterol tinggi mampu mengontrol kadar kolesterolnya, obat statin yang dikonsumsi bisa dikurangi dosisnya bahkan diputus seluruhnya.
Upaya mengontrol kolesterol tersebut, meliputi tidak merokok, berolahraga rutin, berat badan tidak lagi berlebihan, makan sehat, dan aktivitas sehat lainnya. Jika semua ini dilakukan dengan disiplin dan terus menerus menjadi gaya pola hidup sehat, bukan tidak mungkin obat statin bisa lepas sepenuhnya.
"Ini bisa terjadi (lepas obat statin) pada penderita kolesterol tinggi di luar dari kelompok khusus yang disebutkan tadi,” tambah dr. Olivia
Meski memang, putus obat secara 100 persen ini, diakui dr. Olivia memang agak sulit untuk kelompok orang dengan penyakit penyerta.
“Kalau orang-orang yang punya komorbid, agak susah untuk lepas sepenuhnya obat statin. Tapi, dosis direndahkan masih bisa terjadi," tuturnya.
Penting untuk dipahami, pengurangan dosis atau lepas konsumsi obat wajib atas persetujuan dokter yang menangani. Bukan mengacu pada diagnosis dari diri sendiri.
"Jadi, kalau merasa gejala-gejala yang bikin tidak nyaman badan mulai berkurang, yang kerap diasosiasikan badan makin membaik , jangan langsung stop obat. Pasien perlu konsultasi dulu ke dokter untuk menegakkan diagnosis, apakah benar perbaikan yang terjadi itu karena obat atau ada faktor lainnya," tegas dr. Olivia
(Rizky Pradita Ananda)