EMPENNAGE dikenal juga sebagai ekor pesawat berfungsi untuk memberikan stabilitas pesawat dan kendali pitch dan yaw. Cara kerjanya mirip seperti bulu pada anak panah. Kebanyakan fitur pada ekor pesawat menggabungkan stabilisator horizontal dan vertikal, serta elevator dan rudders.
Ternyata setiap pesawat memiliki desain empennage atau ekor yang berbeda. Setiap bentuk ekor tersebut punya fungsi tertentu yang membantu stabilitas pesawat selama terbang.
Berikut jenis-jenis ekor pesawat, yang dirangkum dari berbagai sumber :
1. Desain Conventional Tail
Desain ini menjadi yang paling umum di dunia penerbangan. Desain ekor jenis konvensional punya satu stabilisator vertikal yang ditempatkan di bagian ekor yang runcing, serta satu stabilisator horizontal dibagi menjadi dua, dan masing-masing berada di setiap sisi stabilisator.
Desain ini memberikan stabilitas dan kontrol yang memadai dengan bobot struktural yang rendah. Pesawat-pesawat yang menggunakan jenis ekor konvensional adalah Airbus A300, Boeing 777 dan 747, dan Beech Bonanza A-36.
Pesawat oeing 747 Dreamlifter (Dreamlifter).
2. Desain T-tail
Pada desain T-tail, stabilisator horizontal diposisikan di atas stabilisator vertikal. Stabilisator horizontal juga berada di atas baling-baling atau pencuci penyangga, dan bangun sayap pesawat.
Stabilisator horizontal pada T-tail dibuat lebih kecil dan lebih ringan. Penempatannya juga membuat stabilisator vertikal lebih efisien dan aerodinamis, sehingga ukurannya dapat dikurangi.
Namun, stabilisator horizontal dalam T-tail menumpukan beban tekukan dan puntiran pada stabilisator vertikal, hingga membutuhkan struktur yang lebih kuat. Hal itu menjadikannya lebih berat.
Jenis pesawat yang umumnya memakai desain T-tai adalah Lockheed C-5A, Gates Lear-jets 23 dan 35A, Cessna Citation CJ1, Piper Lance II, dan Beech Skipper 77.
3. Desain Cruciform Tail
Desain ini umum digunakan pada pesawat Dassault Falcon 100, Commander, dan pesawat militer North American Rockwell B-1B.
Desain cruciform atau ekor salib adalah desain yang berada di antara desain T-tail dan desain konvensional. Pada desain salib, stabilisator horizontal dipindah sebagian dari stabilisator vertikal. Stabilisator ini digerakkan ke atas dan menjauh dari knalpot jet dan bangun sayap.
4. Desain Dual Tail
Pada dual tail atau ekor ganda, dua stabilisator vertikal diletakkan di ujung stabilisator horizontal. Ini cukup umum dilakukan pada pesawat berukuran besar dan pesawat pembom bermesin ganda yang digerakkan baling-baling, seperti North American B-25.
Penempatan tersebut membuat stabilisator horizontal lebih kecil, lebih ringan, dan lebih efisien secara aerodinamis.
Beberapa pesawat yang juga menggunakan ekor ganda adalah Consolidated B-24, Short Skyvan, dan Martin PBM Mariner.
5. Desain Triple Tail
Desain triple tail menempatkan dua stabilisator vertikal di ujung stabilisator horizontal, dan satu dipasang di badan pesawat. Triple tail adalah pertibangan penting dalam desain Lockheed Constellation, salah satu pesawat paling signifikan di akhir tahun 1940-an.
Pesawat lain yang menggunakan desain triple tail adalah Grumman E-2 Hawkeye.
Desain ekor pesawat
6. Desain V-Tail
Desain yang juga disebut desain ‘ekor kupu-kupu’ ini memiliki aplikasi terbatas dalam desain pesawat. Paling signifikan dilakukan oleh Beech Company pada desain pesawat Beechcraft Bonanza V-35.
Stabilisator horizontal dan vertikal yang tidak biasa ditempatkan pada ekor V. menurut penelitian dari National Advisory Committee on Aeronautics (NACA) menunjukkan bahwa agar ekor V mencapai tingkat stabilitas yang sama dengan ekor konvensional, luas ekor V harus memiliki ukuran yang juga sama.
7. Desain Y-Tail Terbalik
Desain ini sebenarnya sedikit mirip dengan ekor konvensional dengan penurunan yang mencolok ke stabilisator horizontal. Ujung luar stabilisator horizontal lebih rendah dari ujung yang menempel pada badan pesawat.
8. Desain Twin-Tail
Berbagai pesawat tempur superioritas udara biasanya menggunakan desain twin tail atau ekor kembar. Pesawat F-14 Tomcat milik Angkatan Laut Amerika Serikat, dan F/A-18 Hornet milik Korps Marinir AS telah menggunakan fitur tersebut dalam desainnya.
Namun, stabilisator vertikal pada F-14 lebih menonjol dari F-18, hingga mendekati model ekor V milik Beech V-35 Bonanza.
Adanya dua stabilisator vertikal membuat desain ekor kembar lebih efektif daripada ekor tunggal konvensional jika berada pada ketinggian yang sama.
9. Desain Boom Tail
Ekor boom digunakan saat badan pesawat tidak memanjang seluruhnya ke belakang stabilisator horizontal. Pada pesawat tempur Lockheed P-38 Lightning pada Perang Dunia II dan pesawat kargo Fairchild C-119, mesin dipasang pada bagian boom.
Pada C-19 hal ini memungkinkan akses mudah ke bagian belakang badan pesawat untuk memuat dan mengeluarkan kargo.
10. Desain Multiple-Tail
Desain ini memiliki dua atau lebih stabilisator horizontal. Tata letak tersebut digunakan secara luas dalam pesawat pengebom pada Perang Dunia I, dan beberapa pesawat penumpang serta pengangkut barang.
Replica desain ini masih bisa dilihat pada pesawat Vicker Vimy yang baru diciptakan.
(Salman Mardira)