Para narasumber yang hadir membicarakan secara mendalam mengenai perkembangan WEB 3 khususnya di Indonesia, ketika terjadinya situs web dan aplikasi akan bisa memproses informasi dengan cara yang cerdas melalui teknologi seperti machine learning, big data, teknologi buku besar terdesentralisasi (DLT).
Edo Lavika menyebutkan, perlunya fokus negara Indonesia melihat kekuatan dengan adanya adopsi dari WEB 3 di Indonesia tanpa melupakan ancaman yang kapan saja bisa hadir.
“Sebagai regulator, concernya adalah customer protection. Sebagai regulator perlu melihat WEB 3 secara global melihat strenght dan ancaman nya. Jadi memang perlu kehati-hatian dan perhitungan yang jelas,” kata Edo.
Dibahas pula perihal, Indonesia ingin memanfaatkan adanya WEB 3 dan digital dengan baik dan maksimal di masa depan maka butuh strategi pendalaman untuk mempelajari WEB 3. Pasalnya, tidak relevannya keadaan saat ini jika dibandingkan dengan masa depan digital.
Sementara itu dalam sektor ekonomi WEB 3 dan digitalisasi memang memiliki dampak positif untuk negara Indonesia menurut narasumber Tarreq Kemal.
“WEB3 dari kacamata investor ingin melihat sektor menarik yang akan menjadi katalis untuk memajukan ekonomi namun memang perlu proses,” katanya.
Meski demikian, baik manfaat dan tantangannya WEB 3 dan digitalisasi diharapkan bisa memberikan berdampak signifikan untuk Indonesia dalam berbagai sector bidang.
“Sebagai pelaku WEB3, dan founder Maja Labs saya berkomitmen untuk bagaimana membawa digital WEB 3 agar berdampak pada lingkungan sekitar, bukan hanya dampak sosial namun juga dampak ekonomi,” pungkas Adrian Zakhary.
(Rizky Pradita Ananda)