Bali Digital Fashion Week (BDFW) 2022: Perkembangan WEB 3 dan Digital Indonesia

Tim Okezone, Jurnalis
Senin 19 Desember 2022 13:46 WIB
BDFW 2022, (Foto: BuddyKu)
Share :

Bali Digital Fashion Week 2022 (BDFW 2022) yang berlangsung selama tujuh hari, sejak 10 Desember sampai 16 Desember 2022 baru saja usai dihelat. 

Acara ini sendiri merupakan kolaborasi MAJA Labs, jejaring komunitas WEB 3 bersama dengan Indonesia Creatives Cities Network (ICCN), intas komunitas yang memiliki jejaring sebanyak 220 di Kabupaten/Kota Indonesia.

Menariknya, acara satu ini menjadi pecan mode digital fesyen pertama di Indonesia bahkan Asia. Sesuai namanya, BDFW 2022 menyuguhkan segala hal tentang digital, mulai dari Inovasi Metaverse Fashion, Augmented Reality (AR) Fashion, Phygital Fashion, Digital Fashion NFT, hingga UMKM busana ramah lingkungna dari Indonesia DFW 2022: MajaLabs x ICCN yang hadir untuk mengkampanyekan gaya hidup berpakaian yang lebih ramah lingkungan dan mengedepankan teknologi digital.

Pada gelaran haru pertama dan kedua, digelar secara online Opening Ceremony BDFW 2022: MajaLabs x ICCN di Metaverse Spatial.io dan Jagat Nusantara, yang kemudian dilanjut secara OFFLINE di Beachwalk Shopping Center, Bali. Lalu pada tanggal 12 sampai 15 Desember 2022 di Superlative Gallery (Superlative Secret Society) dengan menghadirkan Digital Fashion NFT & Art Exhibition serta Phygital Exhibition, kemudian Samsara Living Museum, Karangasem, Bali pada tanggal 15 Desember 2022, dan ditutup pada tanggal 16 Desember 2022 di T-Hub by Tokocrypto, Bali sebagai pamungkas.

Tak hanya itu, BDFW 2022 juga menyelenggarakan sesi acara talkshow mengenai WEB 3 Economy Outlook untuk melihat bagaimana perkembangan WEB 3 dan digital Indonesia bersama Edo Lavika member BI Institute, Tarreq Kemal dari Venture Capitalist , Adrian Zakhary dan Founder Maja Labs sebagai narasumber.

BACA JUGA:Potret AKBP Veronica Yulis Prihayati, Istri Laksamana Yudo Margono Panglima TNI yang Baru Saja Dilantik  

Para narasumber yang hadir membicarakan secara mendalam mengenai perkembangan WEB 3 khususnya di Indonesia, ketika terjadinya situs web dan aplikasi akan bisa memproses informasi dengan cara yang cerdas melalui teknologi seperti machine learning, big data, teknologi buku besar terdesentralisasi (DLT).

Edo Lavika menyebutkan, perlunya fokus negara Indonesia melihat kekuatan dengan adanya adopsi dari WEB 3 di Indonesia tanpa melupakan ancaman yang kapan saja bisa hadir.

“Sebagai regulator, concernya adalah customer protection. Sebagai regulator perlu melihat WEB 3 secara global melihat strenght dan ancaman nya. Jadi memang perlu kehati-hatian dan perhitungan yang jelas,” kata Edo.

Dibahas pula perihal, Indonesia ingin memanfaatkan adanya WEB 3 dan digital dengan baik dan maksimal di masa depan maka butuh strategi pendalaman untuk mempelajari WEB 3. Pasalnya, tidak relevannya keadaan saat ini jika dibandingkan dengan masa depan digital.

Sementara itu dalam sektor ekonomi WEB 3 dan digitalisasi memang memiliki dampak positif untuk negara Indonesia menurut narasumber Tarreq Kemal.

“WEB3 dari kacamata investor ingin melihat sektor menarik yang akan menjadi katalis untuk memajukan ekonomi namun memang perlu proses,” katanya.

Meski demikian, baik manfaat dan tantangannya WEB 3 dan digitalisasi diharapkan bisa memberikan berdampak signifikan untuk Indonesia dalam berbagai sector bidang.

“Sebagai pelaku WEB3, dan founder Maja Labs saya berkomitmen untuk bagaimana membawa digital WEB 3 agar berdampak pada lingkungan sekitar, bukan hanya dampak sosial namun juga dampak ekonomi,” pungkas Adrian Zakhary.

(Rizky Pradita Ananda)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya