Waduh! Perempuan Lebih Rentan Alami Burnout daripada Pria, Kenapa?

Pradita Ananda, Jurnalis
Senin 12 Desember 2022 07:00 WIB
wanita rentan burnout daripada pria, (Foto: Freepik)
Share :

ISTILAH Burnout semakin familiar semenjak pandemi Covid-19 melanda. Ya, kondisi pandemi memang membuat banyak orang merasa sangat kelelahan secara mental.

Burnout atau kelelahan dalam literatur medis sendiri, disebutkan sebagai keadaan kelelahan fisik dan emosional akibat stres kronis jangka panjang.

Terlepas dari situasi pandemi, ternyata jika dilihat secara gender, burnout disebutkan lebih cenderung dialami oleh perempuan daripada laki-laki. Menurut penelitian, mengutip ChannelNewsAsia, Senin (12/12/2022) wanita lebih rentan terhadap burnout, terutama para ibu yang bekerja. Wanita karir sekaligus ibu disbeutkan menunjukkan lebih banyak gejala burnout daripada ayah yang bekerja.

Lewat survei yang dilakukan meluncurkan McKinsey Health Institute (MHI) awal tahun 2022, terhadap hampir 15.000 profesional dan pembuat keputusan sumber daya manusia, hasilnya didapati bahwa wanita menunjukkan lebih banyak tanda depresi daripada rekan pria mereka di kantor.

Dalam survei yang sama, ditemukan juga kalau para perempuan di Asia juga lebih rentan terhadap burnout dibandingkan kaum perempuan di belahan dunia lainnya. Gejala umum yang dialami, mulai dari merasa tidak berdaya, kegagalan dan merasa cukup tertekan saat mengalami burnout.

Banyak hal jadi pemicu, bukan hanya dampak keras dari pandemi Covid-19, tapi juga kultur sosial diu masyarakat. Faktanya, banyak ketidakseimbangan dalam society, kehidupan masyarakat yang menimbulkan tuntutan yang tidak adil terhadap kaum perempuan. Contoh, ada kecenderungan untuk percaya bahwa wanita perlu berbuat lebih banyak untuk bisa diakui dengan pengakuan yang sama dengan lawan jenis.

“Untuk membuat tanda dan membuktikan diri, wanita sering merasakan tekanan untuk mengungguli rekan pria mereka agar dianggap serius, kata Jain dari layanan konseling Talk Your Heart Out.

“Seberapa sering wanita ditanyai, bagaimana mereka menyeimbangkan antara karir pekerjaan dan anak? Tapi pertanyaan ini tidak pernah ditujukan kepada laki-laki,” sambung Jain.

 BACA JUGA:Studi: Pria Bertubuh Pendek Punya Lebih Banyak Sifat Psikopat

BACA JUGA:Kabar Baik! Studi Sebut Makan 60 Anggur per Hari Bantu Cegah Kulit Terbakar

Selain itu, di lingkup masyarakat Asia khususnya beban mengasuh mengurus anak dan keluarga juga terus dipikul oleh perempuan, bahkan ketika pihak perempuan juga punya punya pekerjaan penuh waktu alias wanita karir yang bekerja di luar.

“Bahkan, di kantor pun, tugas-tugas yang sifatnya mengasuh sering diberikan kepada perempuan. Mereka akhirnya melakukan semua ini karena ini adalah jenis tanggung jawab yang menjadi tanggung jawab gender kita. Hal-hal yang dilakukan di rumah, akhirnya dilakukan juga di kantor,” terang Jain.

Tak heran, pada akhirnya, semua pekerjaan tak terlihat dan tidak dibayar ini membuat kaum wanita rentan burnout yang banyak tak disadari merupakan silent killer.

(Rizky Pradita Ananda)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya