Kenapa Pelurus Rambut Bisa Sebabkan Kanker Rahim?

Muhammad Sukardi, Jurnalis
Rabu 26 Oktober 2022 13:00 WIB
Rambut diluruskan (Foto: Skinkraft)
Share :

PRODUK pelurus rambut diduga menyebabkan kanker rahim. Studi yang dipublikasi di Journal of National Cancer Institute melihat ada kaitan di antara keduanya.

Studi mengamati hampir 34.000 wanita di Amerika Serikat, berusia 35 hingga 74 tahun yang mengisi kuesioner tentang penggunaan produk rambut tertentu, termasuk pengeriting, pewarna, pelemas, dan pelurus rambut. Para peneliti juga melacak kejadian diagnosis kanker dalam kelompok studi.

 

Hasilnya, peneliti melihat adanya hubungan yang kuat antara penggunaan produk pelurus rambut dengan kasus kanker rahim, tetapi penggunaan produk lain seperti pewarna dan pengeriting rambut tidak terkait dengan kanker rahim.

"Sekitar 4% dari wanita yang sering menggunakan produk pelurus rambut mengembangkan kanker rahim pada usia 70 tahun," bunyi hasil studi tersebut, dikutip dari CNN, Rabu (26/10/2022).

Kata sering menggunakan di atas didefinisikan sebagai lebih dari empat kali penggunaan pada tahun sebelumnya.

Diterangkan Chandra Jackson, penulis studi dan peneliti di Institut Nasional Ilmu Kesehatan Lingkungan, kanker rahim memang jarang terjadi, namun penggandaan risiko menimbulkan beberapa kekhawatiran.

"Dalam penelitian ini, wanita yang sering menggunakan produk pelurus rambut dalam satu tahun terakhir memiliki risiko dua kali lipat lebih tinggi terkena kanker rahim," kata Jackson.

 BACA JUGA: Berisiko Memicu Kanker, Unilever Tarik Sampo Dove hingga TRESemme

Bagaimana produk pelurus rambut bisa menyebabkan kanker rahim?

Diterangkan Ahli Epidemiologi Harvard TH Chan School of Public Health, Tamarra James-Todd, bahwa beberapa zat yang ditemukan dalam produk pelurus rambut, terutama yang paling sering digunakan wanita kulit hitam dan Latin, adalah bahan kimia pengganggu hormon.

"Produk pelurus rambut ini memodifikasi proses hormonal normal tubuh manusia. Jadi, masuk akal untuk melihat kanker yang dimediasi secara hormonal," kata James-Todd.

Ia menambahkan, bahan kimia pengganggu hormon itu juga dapat berdampak pada bagian tubuh lainnya.

"Tantangannya adalah bahwa dampak bahan kimia ini mungkin tidak terbatas pada proses hormonal, tetapi juga dapat berdampak pada sistem tubuh lain, seperti sistem kekebalan dan pembuluh darah," kata dia.

"Memahami bagaimana bahan kimia ini bekerja di luar sistem hormonal masih merupakan bidang penelitian yang baru dan berkembang," tambah James-Todd.

Jadi, ada kemungkinan cara bahan kimia ini bekerja adalah dengan mengubah tidak hanya respons hormonal, tapi juga dengan mengubah respons imun bahkan vaskular. Semua proses ini terkait dengan kanker.

(Dyah Ratna Meta Novia)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya