Sementara itu, angina pektoris tidak mudah didiagnosis karena ada beberapa penyakit yang memiliki gejala yang hampir sama, contohnya penyakit asam lambung. Selain melakukan tes fisik dan menanyakan riwayat kesehatan pasien beserta keluarga, tes berikut juga akan dilakukan, di antaranya elektrokardiogram (EKG).
Tes ini dilakukan untuk memeriksa aliran listrik jantung dan memantau jika terdapat interupsi pada irama jantung. Tes lainnya adalah toleransi olahraga (ETT), untuk memantau toleransi jantung saat melakukan olahraga ringan hingga berat. Tes ini umumnya dilakukan di atas mesin treadmill atau sepeda statis, foto rontgen, dan CT scan.
Pemindaian ini dilakukan untuk memeriksa kondisi otot, pembuluh darah dan ukuran jantung, serta paru-paru dan angiogram koroner. Pemindaian ini dilakukan untuk memeriksa kondisi arteri jantung dengan menyuntikkan zat pewarna (bahan kontras) khusus dan dipantau dengan memasukkan selang tipis dan lentur (kateter) melalui pembuluh darah besar di paha atau lengan menuju ruang jantung. Dokter biasanya akan merekomendasikan tes ini jika diagnosis angina belum ditemukan atau pasien mengalami angina tidak stabil.
“Apabila Anda memiliki gejala, segeralah memeriksakan diri ke dokter atau rumah sakit terdekat sebelum terlambat karena dapat berakibat fatal sampai kematian mendadak,” pungkas dr Addiena.
(RIN)
(Rani Hardjanti)