Dia menjelaskan bahwa jantung adalah organ utama dalam tubuh, di mana peredaran darah dan oksigen harus selalu lancar agar organ tubuh lainnya dapat bekerja dengan baik. Seperti organ-organ lain, jantung juga membutuhkan nutrisi dan oksigen agar dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Nutrisi dan oksigen tersebut disuplai pembuluh darah yang disebut arteri koroner. Menurutnya, dalam jangka waktu tertentu, arteri berisiko diendapi plak, seperti lemak, kolesterol, kalsium, dan zat lainnya yang mengakibatkan pembuluh darah menyempit dan tersumbat (aterosklerosis ).
“Kondisi ini mengakibatkan otot jantung bekerja lebih keras, khususnya saat melakukan aktivitas berat, yang pada akhirnya berpotensi mengakibatkan gejala angina pektoris atau yang lebih parah penyakit jantung koroner (PJK),” beber dr Addiena.
Risiko seseorang mengalami angina pektoris meningkat saat memasuki usia tua, memiliki keturunan kelainan jantung atau gejala angina, dan kondisi medis lainnya, seperti hipertensi, kolesterol tinggi, dan diabetes. Selain itu, gaya hidup menjadi faktor yang dapat meningkatkan risiko, seperti merokok, mengonsumsi alkohol berlebih, mengonsumsi makanan berlemak, kurang berolahraga, obesitas, dan stres.
“Gejala Angina pektoris umumnya ditandai dengan rasa nyeri pada dada, seperti ditekan, berat, dan tumpul. Nyeri juga dapat menyebar atau hanya dirasakan di dada kiri, lengan kiri, leher, rahang, dan punggung. Beberapa gejala lainnya yang dapat dialami meliputi sesak napas, mudah lelah, maupun merasakan nyeri seperti gejala penyakit asam lambung,” ungkap dr Addiena.