Sementara itu, Founder & CEO Ruang Mendengar Dewi Mustikasari mengatakan, pihaknya bertujuan mengatasi persoalan yang terjadi pada akses layanan penanganan terkait masalah kesehatan telinga dan gangguan pendengaran di Indonesia.
Menurut dia, persoalan yang sering dihadapi pasien dengan gangguan pendengaran di Indonesia adalah belum tersedianya satu platform yang dapat memberikan akses menyeluruh, baik berupa informasi tentang kesehatan telinga dan pendengaran, tes pendengaran, maupun rehabilitasi pendengaran, serta kurangnya pemantauan perkembangan rehabilitasi pendengaran pada pasien, khususnya pada anak-anak.
"Nah, kami menghubungkan para dokter dengan pasien. Para dokter bisa melakukan pemeriksaan pendengaran, pemasangan alat bantu dengar serta implan koklea. Pakar yang di bidangnya antara lain dokter spesialis THT, dokter spesialis anak, dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi, psikolog, audiologis, terapis wicara dan praktisi," sambungnya.
BACA JUGA: Apakah Sakit Telinga Termasuk Gejala Covid-19 Varian Delta?
Deputy Chief Digital Transformation Office (DTO) Kemenkes Agus Rachmanto mengatakan, hal ini diharapkan bisa memberikan kemudahan bagi warga yang mengalami kesulitan pendengaran.
(Dyah Ratna Meta Novia)