Gitaris Kahitna Terciduk Pakai Valdimex Diazepam, Obat Apa Itu dan Bagaimana Efek Sampingnya?

Muhammad Sukardi, Jurnalis
Jum'at 03 Juni 2022 13:15 WIB
Konsumsi obat terlarang (Foto: Commonwealth fund)
Share :

GITARIS Kahitna Andrie Bayuajie diciduk polisi karena pakai Valdimex Diazepam atau psikotropika golongan empat. Tujuan Andrie pakai obat terlarang tersebut untuk menenangkan diri.

Menurut penuturan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Endra Zulpan, Andrie sudah pakai Valdimex Diazepam sejak 2017 hingga 2018, berawal saat melakukan pengobatan.

 

Tapi, Andrie sepertinya 'ketagihan' dengan efek yang ditawarkan obat psikotropika tersebut, hingga pada 2020 hingga 2022 Andrie membeli Valdimex Diazepam secara online tanpa melalui resep dokter. Tindakannya ini yang mencederai hukum.

Banyak yang kemudian penasaran valdimex diazepam itu obat apa sebetulnya? Apa efek yang bisa timbul jika mengonsumsi obat tersebut?

Menurut laman kesehatan Honest Docs, Valdimex Diazepam adalah obat penenang, anti konvulsan, dan relaksan otot. Obat ini biasanya digunakan dalam situasi seperti kecemasan, kejang otot, dan susah tidur.

"Obat ini disarankan hanya dikonsumsi dalam jangka pendek. Diazepam termasuk obat golongan benzodiazepine yang bekerja dengan cara meningkatkan efek dari neurotransmitter gamma-Aminobutyric acid (GABA)," terang laporan tersebut.

 BACA JUGA: Sekitar 90% Bahan Baku Obat Masih Diimpor

Lantas, apa efek samping dari obat Valdimex Diazepam?

Efek samping umum dari obat ini adalah mengantuk, kesulitan koordinasi, kelelahan, kelemahan otot, ataksia, dan kepala terasa ringan. Namun, efek samping yang lebih jarang misalnya nyeri kepala, vertigo, perubahan salivasi, gangguan saluran cerna, ruam kulit, dan gangguan penglihatan.

Pada kasus yang lebih serius, efek samping obat ini adalah kegelisahan, mudah marah, kegembiraan yang besar, kejang-kejang, insomnia, kram otot, perubahan libido, dan dalam beberapa kasus menimbulkan kemarahan dan kekerasan.

"Obat ini meningkatkan risiko kejang jika digunakan terlalu sering pada pasien pengidap epilepsi," tambah laporan kesehatannya.

Penggunaan jangka panjang bisa mengakibatkan toleransi, ketergantungan, dan gejala putus obat pada pengurangan dosis. Ini berbahaya dan perlu mendapat penanganan lebih lanjut jika sudah terjadi.

(Dyah Ratna Meta Novia)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya