PLT Organisasi Riset IPH BRIN Iman Hidayat mengatakan, saat ini posisi Indonesia ada di 194 kandidat vaksin yang di develop di dunia (pre clinical). Ini adalah situasi di mana Indonesia berupaya bersaing dalam konteks menjawab health resilience pada masa pandemi Covid-19.
Iman menegaskan, sudah 2 tahun lebih para peneliti masih dalam konteks baru mau memasuki uji klinis dalam pengembangan vaksin Covid-19 Merah Putih. Progres ini terbilang lamban, jika dibandingkan dengan negara lain yang hanya membutuhkan waktu setengah tahun saja dalam membuat vaksin.
Sebagaimana diketahui, Indonesia memiliki 7 tim yang pengembang vaksin yang terdiri dari Universitas Airlangga, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjajaran, Universitas Gajah Mada, Universitas Indonesia (2 tim), dan LBM Eijkman. Semua tim ini terdiri dari berbagai platform.
"Dari keseluruhan tim ini ternyata ditemukan kendala mengapa Indonesia tidak secepat negara seperti China atau bahkan India dalam mendevelop vaksin Covid-19," ujar Iman dalam acara Talk to Scientist yang digelar di channel YouTube Brin Indonesia, Rabu (26/1/2022).
Ia pun membeberkan 3 kendala utama yang dihadapi para peneliti Indonesia dalam mengembangkan vaksin Merah Putih. Adapun 3 kendala tersebut, yakni:
1. Peneliti kita tidak memiliki pengalaman menngembangkan vaksin mulai dari 0. Jadi vaksin Polio dan lainnya yang diproduksi dari Bio Farma adalah membeli license dan tidak dikembangkan dari 0.