“Dampaknya cukup banyak, ketertinggalannya sudah banyak. Contoh, masih ditemukan anak-anak kelas 3 dan 4 SD itu masih enggak bisa baca loh. Kelas 3-4 ini ekstrim ketertinggalannya,” tambahnya.
Tidak hanya soal capaian kualitas hasil belajar anak, PJJ selama kurang lebih dua tahun ini juga disebut Sri berpengaruh pada proses karakter anak. Contohnya, anak-anak jadi bermalas-malasan di rumah, hingga terlalu akrab dengan gawai karena terbiasa sebagian aktivitas dilakukan secara online.
Berangkat dari banyak dampak negatif tersebut, Dra. Sri menegaskan, maka dari itu pemerintah memutuskan untuk kembali membuka dan menguatkan aktivitas PTM.
Baca juga: Rasakan Gejala Omicron seperti Ini, Segera ke Rumah Sakit!
“Saat ini PTM dikuatkan lagi, tahun 2022 ini lewat SKB 4 Menteri mendorong setiap satuan pendidikan khususnya yang ada di level 1 dan 2, dan kualitas vaksinnya sudah membaik yang artinya tenaga pendidiknya sudah divaksin, orangtua sudah divaksin, maka dilakukan PTM terbatas durasinya 6 jam, setiap hari, tapi kantin belum boleh dibuka dulu,” pungkas Dra. Sri.
(Dyah Ratna Meta Novia)