Jejak Kemewahan Pada Kawasan Perdagangan Kayutangan Malang Peninggalan Belanda

Avirista Midaada, Jurnalis
Kamis 13 Januari 2022 13:04 WIB
Kawasan Kayutangan, Malang (MPI/Avirista Midaada)
Share :

Bila di kawasan Pecinan, beberapa barang seperti sepeda, furniture, permata dijual, di Kayutangan juga menjual barang yang sama tetapi dengan harga dan kualitas yang jauh lebih bagus.

“Kalau Kayutangan relatif lebih banyak yang untuk pasarnya orang Eropa, meski di Pecinan juga ada barang-barang tertentu, jualan barang-barang yang sangat mahal, seperti furniture, permata, tapi di Kayutangan barangnya lebih mahal lagi,” kata dosen sejarah di UM ini.

Barang – barang elektronik, otomotif, hingga peralatan rumah tangga berkualitas dengan harga mahal, menjadi salah satu komoditi Kayutangan di masa lalu. Barang – barang ini menjadi salah satu incaran para saudagar kaya dan crazy rich Belanda dan beberapa warga Eropa lainnya yang berada di Kota Malang saat ini.

“Jadi barangnya luxury (mewah), ada sepeda, ada suku cadang mobil Chevrolet, Ford, ada piano, alat-alat musik, arloji, buku. Kalau permata bukan di situ, di Jalan Gatot Subroto,” ungkapnya.

Puncak kejayaan Kayutangan terjadi sekitar tahun 1930 – 1940 dimana di saat – saat itu perekonomian Belanda kembali bangkit. Hal ini terjadi setelah tahun 1930, Belanda mengalami depresi ekonomi yang menyebabkan keuangan Belanda terguncang, yang berimbas pada pembangunan Kota Malang yang terbengkalai.

“Puncak kejayaan kawasan 1930 - 1940 karena pembangunan kota baru selesai 1930, itu baru selesai karena Belanda punya banyak duit, dagangannya agak lancar, tahun 1930 kena depresi ekonomi dunia berhenti,” bebernya.

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya