Jejak Kemewahan Pada Kawasan Perdagangan Kayutangan Malang Peninggalan Belanda

Avirista Midaada, Jurnalis
Kamis 13 Januari 2022 13:04 WIB
Kawasan Kayutangan, Malang (MPI/Avirista Midaada)
Share :

MALANG – Satu lagi ikon Kota Malang yang memiliki nuansa sejarah dan kawasan heritage panjang peradaban kolonialisme Belanda di Indonesia. Kawasan Kayutangan di Kota Malang merupakan sebuah pusat perdagangan dan bisnis di era penjajahan Belanda di Indonesia.

Kawasan ini ditata sedemikian rupa demi menghasilkan cuan yang menghidupi perputaran dan pajak kas negara kala itu.

Kini kawasan Kayutangan masih tetap difungsikan sebagai kawasan heritage dan perdagangan. Beberapa pertokoan masih tampak seperti zaman dahulu, tetapi memang peremajaan dan rekonstruksi menjadikan Kayutangan heritage tampak lebih segar.

Nama Kayutangan sendiri disebut sebagaimana dikutip dari buku “Potensi Kampung Kayutangan Heritage” yang disusun oleh Prof. Lalu Mulyadi, Ir. Budi Fathony, dan Ester Prikasari, karena wilayah ini diapit dua sungai yakni Sungai Sukun dan Sungai Brantas. Maka dapat dipahami bila areal apit sungai tersebut merupakan tanah yang potensial bagi tumbuh lebatnya aneka tanaman, sehingga konon membentuk areal hutan (alas, halas, wana).

Salah satu jenis pohon yang tumbuh di hutan itu, bahkan menjadi tanaman yang dominan adalah pohon (wit) tangan. Nama ‘tangan’ inilah yang disebut daun – daunnya menyerupai jari – jari tangan yang mengembang. Ada kecenderungan jumlah percabangan daunnya empat (pat, patang).

Dok MPI/Avirista Midaada

Sebutan untuk pohon tegak, yang batangnya keras atau cukup keras dalam bahasa Jawa adalah “kayu”. Karenanya pohon ini mendapat sebutan “Kayu Tangan”. Ketika masih merupakan areal hutan, di sekitar Koridor Kayutangan tumbuh cukup banyak pohon (kayu) tangan tersebut. Hal inilah yang kiranya menjadi latar adanya sebutan Jalan (Koridor) Kayu Tangan bila ditulis dengan ejaan van Opoesen “Kajoe”.

Unsur sebutan “Tangan” dari pohon itu kedapatan dipakai juga sebagai unsur nama desa sekaligus kecamatan di sub-area timur Tulungagung yaitu Rejotangan (rejo-pangan). Di samping itu, areal di samping utara belakang Pasar Wage di Desa Kenayan Kabupaten Tulungagung juga memiliki unsur nama “Tangan” yakni Jotangan (kata “jo” boleh jadi adalah akronim dari rejo).

Baca Juga:

7 Tips Mengatasi Ketakutan Naik Pesawat, Silakan Dicoba!

Terungkap Ini yang Terjadi Jika Jendela Pesawat Pecah di Udara, Segera Selamatkan Dirimu!

Dengan demikian, pohon “Kayu Tangan” sebagaimana dikutip dari buku “Potensi Kampung Kayutangan Heritage” amat mungkin pada masa lampau tumbuh di berbagai tempat di Jawa, antara lain di Malang dan Tulungagung.

Unsur namanya sering digunakan untuk menamai sebuah desa atau dusun yang bersumber pada nama-nama pohon atau kayu yang banyak tumbuh di areal tersebut. Dengan kata lain, “Kayu Tangan” pada konteks ini adalah sebuah toponimi, yakni nama yang memberi gambaran ekologis masa lalu pada area bersangkutan.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya