TRADISI harakiri di Jepang terkenal hingga mancanegara, terutama setelah diperkenalkan lewat film-film. Harakiri berasal dari gabungan Kanji, yakni hara berarti perut dan kiri adalah.
Hara-kiri berarti pemotongan perut dalam bahasa Jepang. Singkatnya adalah ritual bunuh diri untuk menebus kesalahan demi kehormatan atau harga diri.
Tetapi, orang Jepang hampir tidak pernah menggunakan kata harakiri dan lebih memilih kata seppuku. Seppuku adalah kematian terhormat atau bunuh diri ritualistik dengan mengeluarkan isi perut yang hanya bisa dilakukan oleh seorang samurai, karena terdapat ritual dan tata cara yang harus dilkakukan.
Baca juga: Mengenal Tradisi Nyotaimori, Makan Sushi di Atas Tubuh Wanita Tanpa Busana
Tradisi seppuku (Harakiri) sudah lahir dari abad ke-12. Pada awalnya, kebiasaan ini dilakukan sebagai salah satu bentuk seorang samurai dan orang-orang dari kelas atas untuk menebus kejahatannya, mendapatkan kehormatan yang hilang, atau mengindarkan diri dari penangkapan yang memalukan oleh musuh.
Dirangkum dari beberapa sumber, alasan bagian perut menjadi pilihan untuk dipotong, tidak lain karena banyak dari orang Asia kuno yang percaya bahwa jiwa dan pikiran dari seseorang beristirahat dalam perut dan bukan pada otak, dan karenanya perut harus dipotong agar jiwa tersebut terbebas.
Ritual dimulai dengan samurai yang dimandikan, berpakaian kimono putih dan dilayani dengan menu favorit sebagai makanan terakhir, dan diberi waktu untuk menulis puisi kematiannya.
Dia akan dipersilakan duduk di tempat yang ditunjuk dengan posisi seiza (kaki ditarik di bawah tubuh sehingga benar-benar duduk di atas tumit). Kaishakunin, bertugas memenggal kepala dari pelaku Seppuku bersiap di sebelahnya. Kaishakunin dapat ditunjuk oleh pemerintah Shogun atau teman dekat pelaku.
Baca juga: Mengenal Festival Hadaka Matsuri, Pesta Telanjang Doakan Panen di Jepang
Sebuah gelas sake, setumpuk Washi (kertas buatan tangan dari kulit kayu mullberry) dan alat tulis, serta Kozuka (pedang pemotong perut) akan diletakkan di meja kayu dan berada di depan pelaku Seppuku.
Pedang yang biasa dipakai untuk mengeluarkan isi perut adalah Tanto (pisau). Pedang ini dibalut dengan kain sehingga tidak akan melukai tangan pengguna, atau menyebabkan dia kehilangan pegangan ketika memegang pedang tersebut.
Namun, jika pelaku belum cukup umur, atau diputuskan untuk terlalu berbahaya jika diberi pedang, pedang akan diganti dengan sebuah kipas.
Pelaku akan meminum sake dua kali masing-masing dua tegukan. Satu tegukan untuk keserakahan, ketiga tegukan lainnya untuk keraguan. Total empat tegukan, atau ‘shi’(empat) dalam bahasa Jepang, melambangkan kematian. Setelah itu dia akan menulis wasiat terakhir dengan anggun dan natural, seolah tanpa peduli bahwa dia akan mati.