Peneliti Oxford Sebut Orang yang Divaksin Lebih Sulit Tularkan Covid-19

Pradita Ananda, Jurnalis
Sabtu 02 Oktober 2021 13:35 WIB
Ilustrasi. (Foto: Freepik)
Share :

VAKSIN Covid-19 memang diwajibkan bagi setiap orang yang memang bisa mendapatkan vaksin. Pasalnya, sampai saat ini belum ada obat yang benar-benar ampuh membunuh virus Covid-19.

Mengutip NBC News, para ilmuwan di University of Oxford mengungkapkan, orang-orang yang telah divaksin lebih kecil kemungkinannya menularkan Covid-19 dibanding orang yang belum, jika mereka terinfeksi.

Studi penelitian ini dilakukan para ilmuwan Inggris dengan cara memeriksa catatan data nasional dari hampir 150.000 kontak yang ditelusuri dari sekitar 100.000 kasus awal. Sampel yang diperiksa termasuk orang-orang yang sudah divaksinasi full atau sebagian dengan vaksin Pfizer-BioNTech atau AstraZeneca, serta orang-orang yang tidak divaksinasi.

Para peneliti kemudian melihat bagaimana vaksin Covid-19 tersebut bisa memengaruhi penyebaran virus jika seseorang terinfeksi dengan varian alpa atau varian delta yang sangat menular.

Disebutkan lebih lanjut, hasilnya menunjukkan kedua vaksin itu sukses mengurangi resiko penularan. Walau secara efektivitas, jika dibandingkan hasilnya memperlihatkan lebih efektif melawan varian alpa dibandingkan dengan varian delta.

Ketika terinfeksi dengan varian delta, terlihat 65 persen lebih kecil kemungkinannya untuk positif jika orang yang terpapar telah divaksinasi penuh dengan dua dosis vaksin Pfizer. Sementara dengan AstraZeneca, 36 persen lebih kecil kemungkinannya untuk positif jika orang yang terpapar telah divaksinasi lengkap. Resiko penularan jadi lebih tinggi, jika orang tersebut baru menerima satu dosis vaksin Pfizer atau AstraZeneca.

Walau hasil studi penelitian ini belum ditinjau rekan sejawat, tapi para ilmuwan lainnya (yang tidak ikut serta dalam penelitian) menilai penemuan ini adalah temuan yang terpercaya.

‘Ini adalah studi kualitas tertinggi yang kami miliki sejauh ini tentang masalah penularan orang yang divaksinasi yang terinfeksi delta,” kata Dr. Aaron Richterman, dokter penyakit menular di University of Pennsylvania.

Senada dengan Dr. Aaron, Susan Butler-Wu, ahli mikrobiologi klinis di University of Southern California, menyebut penelitian ini punya performa yang baik, terutama karena mencerminkan penularan real di dunia nyata dengan melacak penyebaran di antara kontak dekat.

(Martin Bagya Kertiyasa)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya