2. Re-branding
(Foto: Instagram/@sadadd)
Tidak hanya mengubah nama, Sadad juga memiliki konsep yang berbeda pada bisnis fesyennya ini menjadi bernuansa batik. Produk yang ditawarkan oleh Erigo berupa kemeja, celana, dan jaket. Selain itu, Sadad juga memulai jualannya dengan memberikan konsep foto yang menarik. Tak tanggung-tanggung, ia sempat melakukan photoshoot di Singapura.
Meski demikian, nama Erigo tidak serta merta langsung melejit di kalangan masyarakat. Sadad pun kembali berinovasi dengan mengambil tema street style. Totalitasnya dalam mengembangkan produk bersama konsep barunya ini, Sadad sampai melakukan pemotretan di Jepang.
3. Beralih dari event ke event
(Foto: Instagram/@sadadd)
Untuk memperkenalkan Erigo, Sadad kerap kali mengikuti event di berbagai kota yang ada #DiIndonesiaAja. Bahkan, ayah dari seorang putri ini juga sempat mencicipi booth di Malaysia. Tidak hanya itu, Sadad juga langsung merambah media sosial untuk mengenalkan brand Erigo dan memiliki website untuk melakukan penjualan secara online.
Perjalanan Sadad tidak serta merta berbuah manis. Ia kerap mengalami kerugian dari berbagai pameran yang diikutinya. Pasalnya, biaya operasional sering tidak berbanding dengan omzet yang ia dapatkan.
Salah satunya saat mengikuti pameran di Malaysia yang hanya mendapatkan omzet sebanyak Rp5 juta, padahal saat itu biaya operasional mencapai Rp25 juta. Perjuangannya yang tidak mengenal kata menyerah berbuah manis. Pada 2015, Sadad berhasil memiliki omzet hingga Rp22 miliar.
4. Memiliki ratusan karyawan
(Foto: Instagram/@sadadd)