Dengan setiap varian baru, penyakitnya tidak berubah menjadi sesuatu yang baru dan biologi dasar virus tidak berubah, jadi tidak masuk akal untuk menyebut varian "Covid-22." Itu akan mencerminkan penyakit yang berbeda.
Bahkan ketika varian seperti Delta muncul dengan mutasi yang membuatnya lebih mudah menular atau berpotensi resisten terhadap vaksin, mereka masih dapat dikenali sebagai variasi dari SARS-CoV-2.
Terpisah, imunologi Swiss tersebut mengklarifikasi komentarnya dalam sebuah wawancara dengan Newsweek. Menurutnya, penggunaan istilah yang tepat dan benar untuk penyakit yang disebabkan oleh SARS-CoV-2 adalah Covid-19.
"Saya tidak menyadari bahwa saya menggunakan istilah 'COVID-21' atau 'COVID-22' akan menyebabkan reaksi seperti itu," katanya.
“Yang ingin saya sampaikan adalah ketika SARS-CoV-2 berevolusi secara harfiah, pemikiran kita tentang bagaimana merespons dan menangani pandemi juga harus berkembang,” tambah dia.
(Martin Bagya Kertiyasa)