Heboh Covid-22 Disebut Lebih Berbahaya dari Varian Delta, Ternyata Hanya Salah Sebut

Martin Bagya Kertiyasa, Jurnalis
Jum'at 27 Agustus 2021 13:06 WIB
Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)
Share :

BARU-BARU ini media sosial Twitter memang tengah dihebohkan dengan "Covid-22". Covid-22 disebut sebagai virus masa depan yang lebih menyeramkan dari Covid-19.

Forbes menyebut istilah tersebut berasal dari seorang ahli imunologi Swiss dan profesor di ETH Zürich di Zürich Swiss, Sai Reddy. Dalam artikel surat kabar Swiss berbahasa Jerman Blick, Reddy tampaknya menggunakan "Covid-22" untuk membahas potensi masa depan pandemi virus corona.

"Ini fase pandemi berikutnya, ketika Beta atau Gamma menjadi lebih menular, dan atau Delta berkembang yang akan menjadi masalah besar," kata Reddy dalam artikel tersebut seperti dilansir dari Insider.

"Covid-22 bisa lebih buruk dari apa yang kita alami sekarang," katanya.

Kutipan Reddy pun beredar secara online, dengan banyak orang salah mengartikan komentar tersebut dan memicu kekhawatiran tentang varian virus corona baru. Beberapa khawatir itu bisa lebih berbahaya daripada varian Delta, yang sekarang menjadi varian virus corona dominan di berbagai negara.

 

Ternyata Reddy lebih luas mengacu pada gelombang pandemi berikutnya. Tapi menurut Dave Wessner, seorang profesor biologi di Davidson College mengatakan lebih banyak nama untuk virus corona dan variannya hanya akan membuat panik.

"Itu tidak secara akurat mencerminkan biologi, dan saya pikir memperkenalkan nama baru seperti itu hanya membingungkan masyarakat umum lebih dari apapun," kata Wessner kepada Insider.

Dalam postingan Insider Paper, sebuah media di Swiss, dalam Twitternya menyebut Covid-22 akan lebih parah dari varian Delta.

"PERINGATAN: Varian super baru bernama 'Covid-22' bisa lebih berbahaya daripada strain Delta, para ahli memperingatkan," tulis Insider Paper dalam tweet, yang mengumpulkan lebih dari 13.000 suka dan 30.000 retweet, dengan ribuan orang mengekspresikan kebingungan dan ketakutan di bagian komentar.

Meskipun frasa tersebut tidak lagi terlihat di tab Trending Twitter, tapi "Covid-22" menjadi tren di AS, dengan lebih dari 58.000 tweet. Juru bicara Twitter pun mengatakan bahwa platform tersebut memblokir frasa Covid-22 muncul di Trends sesuai kebijakan platform.

Covid-19 adalah nama penyakit yang disebabkan oleh novel coronavirus, bukan virus itu sendiri (yang disebut SARS-CoV-2). Varian tertentu dari virus corona baru diberi nama menggunakan huruf Yunani, seperti Delta dan Lambda, di bawah rencana yang dikembangkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Dengan setiap varian baru, penyakitnya tidak berubah menjadi sesuatu yang baru dan biologi dasar virus tidak berubah, jadi tidak masuk akal untuk menyebut varian "Covid-22." Itu akan mencerminkan penyakit yang berbeda.

Bahkan ketika varian seperti Delta muncul dengan mutasi yang membuatnya lebih mudah menular atau berpotensi resisten terhadap vaksin, mereka masih dapat dikenali sebagai variasi dari SARS-CoV-2.

Terpisah, imunologi Swiss tersebut mengklarifikasi komentarnya dalam sebuah wawancara dengan Newsweek. Menurutnya, penggunaan istilah yang tepat dan benar untuk penyakit yang disebabkan oleh SARS-CoV-2 adalah Covid-19.

"Saya tidak menyadari bahwa saya menggunakan istilah 'COVID-21' atau 'COVID-22' akan menyebabkan reaksi seperti itu," katanya.

“Yang ingin saya sampaikan adalah ketika SARS-CoV-2 berevolusi secara harfiah, pemikiran kita tentang bagaimana merespons dan menangani pandemi juga harus berkembang,” tambah dia.

(Martin Bagya Kertiyasa)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya