PENYAKIT Tuberculosis (TBCC) memang masih cukup banyak menyerang masyarakat Indonesia. Pemerintah pun menargetkan pengendalian TBC secara penuh di Indonesia pada 2030.
Tapi hal itu bukanlah target yang mudah untuk dicapai. Apaalgi, TBC memiliki proses penyembuhan yang memakan waktu lama, sehingga memerlukan konsistensi dari pasien.
"Pengobatan daripada TBC membutuhkan waktu 6-9 bulan kemudian meninggalkan kebosanan dan sering putus berobat, dan kemudian tidak berobat adalah tantangan yang kita hadapi," kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr Siti Nadia Tarmizi.
Kendati demikian, Nadia menjelaskan bahwa TBC merupakan penyakit yang bisa disembuhkan, dan proses penyembuhan bisa menjadi lebih mudah jika pasien melakukan terapi obat pencegahan pencegahan selama dua bulan.
"Upaya pencegahan ini pun sudah ditemukan metodenya, yaitu dengan memberikan terapi obat pencegahan TBC selama dua bulan. Orang yang sakit TBC jelas memiliki gejala batuk dan kondisi kesehatan yang dirasakan sehingga untuk memulai pengobatan akan lebih mudah," kata Nadia.
Di sisi lain, pemberian terapi TBC sebagai upaya pencegahan pada semua kelompok umur baik pada anak atau dewasa dianggap sebagai metode yang sangat tepat. Selain itu, upaya preventif juga diperlukan untuk menjaga seseorang agar tidak menjadi sakit.
"Ini juga merupakan tantangan karena kita akan memberikan obat terapi pencegahan di mana orang tersebut merasa dirinya tidak sakit dan pengobatan ini cukup lama selama dua bulan dan harus meminum obat setiap hari," kata Nadia.
"Ini tantangan-tantangan yang menjadi PR kita untuk mencapai cita-cita kita yaitu untuk mencapai ending TBC yaitu pada 2030," tambah dia.
Dia mengatakan, masyarakat harus mewaspadai TBC karena Indonesia merupakan negara kedua terbesar dengan kasus TBC setelah India. Diperkiraan terdalat 845 ribu untuk kasus TBC biasa dan 24 ribu untuk kasus TBC resisten yang ada di Indonesia.
"Secara jumlah absolut angka China kurang lebih sama. Tapi yang kita khawatirkan adalah angka kejadian kasus baru. Jadi kalau kita melihat, angka kejadian kasus baru kita saat ini adalah 312 per 100 ribu. Sementara kalau kita melihat China, itu sudah pada angka hampir 70 per 100 ribu penduduk," kata Nadia.
(Martin Bagya Kertiyasa)