Pemilik brand Clevina itu menjelaskan bahwa bisnisnya tersebut dimulai sejak 2014 saat dirinya masih berusia 22 tahun.
"Waktu pertama kali rilis itu aku modalnya Rp5 juta dan entah momennya lagi pas, saat itu brandku berhasil naik. Sepatuku laku sampai ribuan pasang dan omset kala itu bisa menyentuh ratusan juta," ungkap wanita yang telah memiliki dua anak tersebut.
Setelah produk awalnya jadi best seller, Cindy pun memutuskan untuk menyeriusi bisnisnya. Mulai dari aspek kemasan, model, sampai strategi marketing dipikirkan dengan matang. Hingga 6 tahun berdiri, Cindy mengaku telah merilis 80-an sepatu ke pasaran dan selalu laris manis.
Namun demikian, Cindy mengaku usahanya agak menurun di masa pandemi, khususnya di 2020. Ia mengungkapkan, pandemi berdampak cukup besar bagi bisnisnya dan cukup membuat dia pusing. Sebab saat pandemi datang, Cindy harusnya merilis produk tapi akhirnya produk tersebut hanya menumpuk di gudang.
Tetapi Cindy pun tak lantas menyerah. Menurut Cindy ketimbang pasrah begitu saja, ia lebih suka mencari solusi atas kondisi tersebut dan jalan keluar yang ia tempuh saat itu ialah membuat sale di momen tertentu, salah satunya di Ramadhan 1442 H kemarin yang hasilnya membuat stok di gudang keluar semua.
"Pada akhirnya aku sadar bahwa apa yang aku jalani ini adalah passion aku, makanya aku enggak nyerah. Aku memang suka (bisnis sepatu), karena suka, jadi happy ngejalaninya. Apalagi pas bikin sepatu baru dan banyak yang suka, jadinya pingin lagi dan lagi," katanya.
"Termasuk juga jadi content creator, aku happy juga. Tampil depan orang, bicara di depan kamera, ialah hal yang sudah aku lakukan sejak modeling dulu. Makanya, tetap aku jalani sampai sekarang ini," tambah Cindy.
(Helmi Ade Saputra)