"Kedatangan VOC menandai paham ini ada di Indonesia. Di saat itu, banyak priyai yang sengsara. Penduduk Indonesia hanya bisa hidup enak kalau mereka bisa dekat dengan penjajah. Karena itu, banyak warga yang terasingkan dan terbelakang baik secara pemikiran, pendidikan, hingga ekonomi," ujarya.
Asep menekankan, kebenaran pesugihan sendiri baginya yang rasional sulit diterima. Tetapi, kurang lebih di abad 18 akhir dan awal 19 itulah pesugihan mulai ramai diberitakan. "Banyak akhirnya orang-orang yang percaya hal yang tak masuk akal," sambungnya.
Bentuk pesugihan yang dilakukan salah satunya adalah mendatangi makam keramat. Ritual tumbal pun marak tersebar informasinya di masa itu.
"Praktik pesugihan biasanya melibatkan gunung, sawah, laut dan goa. Keempat unsur tersebut memiliki nilai yang dipercaya. Termasuk binatang-binatang dan di situlah babi ngepet ada," katanya.
Pesugihan pun banyak terjadi di pergantian musim. Ya, dari musim kemarau ke musim hujan, musim panen ke musim tanam, pun sebaliknya.