Apa Hubungannya Vaksin Covid-19 dengan Mengantuk?

Muhammad Sukardi, Jurnalis
Rabu 10 Maret 2021 18:21 WIB
Ilustrasi Vaksin Covid-19. (Foto: Freepik)
Share :

PEMBERIAN vaksin Covid-19 memang terus digencarkan oleh pemerintah dalam rangka pembentukan herd imunity. Namun, karena keterbatasan vaksin maka belum semua mendapatkan vaksin Covid-19.

Saat ini, vaksin baru diberikan pada tenaga medis, lansia dan mereka yang berada di garda depan penanganan pandemi Covid-19. Hingga kini, mereka yang mendapatkan vaksin pun tidak mengalami efek samping yang berarti. Kebanyakan, hanya mengeluhkan pegal dan pusing, serta yang cukup banyak juga adalah mengantuk.

Terkait dengan efek samping mengantuk usai divaksinasi Covid-19, dituturkan Prof. Dr. Kusnadi Rusmil, dr., Sp.A(K), MM, Ketua Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 , saat uji klinis memang terjadi kejadian mengantuk pada relawan yang diuji klinis.

"Habis disuntik dalam hari-hari uji klinis, memang ada yang sensitif, yang mengantuk itu ada. Tapi kalau ngantuk kan tidur saja, setelah tidur kan jadi segar,” jelas Prof. Dr. Kusnadi Rusmil.

Melansir klikdokter, dr. Arina Heidyana menyebut lelah dan mengantuk setelah menerima vaksin COVID-19 merupakan efek samping yang normal terjadi. Kondisi tersebut pun dapat dialami secara berbeda. Bahkan, ada pula sebagian penerima vaksin yang mungkin tidak merasakannya.

"Timbulnya efek samping vaksin COVID-19 menandakan bahwa sistem kekebalan tubuh telah bekerja dan bereaksi. Jadi, lelah dan mengantuk juga bisa merupakan respons tubuh terhadap vaksin tersebut,” kata dr. Arina.

Dikutip dalam Times of India, vaksin COVID-19 bekerja dengan cara ‘menipu’ tubuh. Ketika seseorang disuntik, vaksin akan mulai bekerja untuk melakukan proses peradangan agar memicu sistem kekebalan untuk bekerja melawan ‘virus’.

Di saat sistem kekebalan bekerja melawan infeksi, tubuh bisa saja mengalami beberapa keluhan, seperti demam, menggigil, nyeri di tempat suntikan, mual, dan gejala lain yang mirip Covid-19.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) pun mencatat beberapa orang mungkin juga mengalami kedinginan (meriang) demam atau sakit kepala. CDC sendiri menyarankan, jka sekitar 24 jam belum membaik, sebaiknya bisa segera periksa ke dokter.

(Martin Bagya Kertiyasa)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya