Aplikasi Kencan Merajalela, Benarkah Ghosting Dianggap Sepele?

Muhammad Sukardi, Jurnalis
Senin 08 Maret 2021 11:20 WIB
Ilustrasi (Foto : Mindbodygreen)
Share :

Banyak orang tengah membahas ghosting. Fenomena ini muncul kembali ke permukaan dan membuat ramai jagat maya di era aplikasi kencan yang merajalela.

Beberapa pertanyaan mencuat, salah satunya adalah kenapa seseorang melakukan ghosting? Apa motifnya? Kenapa tindakan tersebut dia pilih, apa alasannya?

Sebuah survei PlentyOfFish yang dilakukan pada 2016 menerangkan bahwa hampir 80 persen milenial lajang berusia 18 hingga 33 tahun pernah di-ghosting saat berkencan. Kejadian itu kemudian dikaitkan dengan fenomena lajang yang semakin mawas diri dalam memulai suatu hubungan.

Nah, di artikel ini MNC Portal Indonesia merangkum beberapa alasan seseorang melakukan ghosting. Apa saja?

1. Tidak terlalu suka


Menurut survei BuzzFeed 2019, seseorang meng-ghosting karena tidak suka dengan lawan komunikasinya (81%), merasa ilfeel (64%), dan karena marah (26%).

"Jika seseorang tidak tertarik pada Anda atau merasa belum sepenuhnya mau membuka hati untuk Anda, mereka yang meng-ghosting akhirnya berasumsi bahwa tidak ada hati yang terluka karena hubungan belum terlalu serius. Karena itu, mengakhiri hubungan tanpa penjelasan dipilih," kata konselor Shae Ivie-Williams dikutip dari Mind Body Green.

Baca Juga : 7 Potret Maria Vania Tetap Seksi Pakai Busana Tertutup, Idaman Banget!

Baca Juga : Intip Selfie Donna Harun Pakai Tanktop, Tetap Seksi di Usia Setengah Abad

2. Kencan bukan prioritasnya lagi

Ya, soal prioritas ini harus dicatat oleh semua orang. Setiap orang memiliki prioritasnya masing-masing dan tak sedikit di antara mereka yang awalnya memprioritaskan urusan hati, tapi lambat laun berubah ke pekerjaan.

"Salah satu penyebabnya adalah masa sulit di tempat kerja atau ada masalah di keluarga. Ini sangat mudah mengubah prioritas seseorang," terang laporan tersebut.

3. Banyak waktu senggang di dalam berkomunikasi

Salah satu penyebab seseorang melakukan ghosting adalah banyaknya waktu senggang atau kosong saat berkomunikasi. Jadi, ketika obrolan sudah tidak sehangat di awal perkenalan, lalu balas pesan mulai lama, ada kemungkinan seseorang akan melakukan ghosting di momen tersebut.

4. Tidak ada 'cahaya terang' di ujung lorong

Beberapa orang mampu memikirkan masa depannya, termasuk soal cinta. Takdir menjadi hal yang mendasar dalam memikirkan hal tersebut.

Pada 2018, psikolog Gill Freedman, PhD, melakukan penelitian yang menganalisis kepercayaan orang terhadap takdir dan bagaimana hal itu berkolerasi dengan keputusannya untuk meng-ghosting.

Menurut temuannya, orang dengan keyakinan takdir yang lebih kuat 60 persen lebih mungkin melakukan ghosting sebagai cara yang dapat diterima untuk mengakhiri hubungan.

5. Gegara aplikasi kencan

"Aplikasi kencan membuat komunikasi menjadi lebih impersonal. Efeknya, ghosting menjadi sesuatu yang dianggap wajar karena masih banyak peluang lain yang bisa didapat di aplikasi kencan," kata Ivie-Wiliams.

Secara tidak langsung, mudahnya aplikasi kencan untuk diakses juga membuat perasaan untuk memiliki menjadi semakin tipis. "Ketika itu sudah terjadi, ya, ghosting bukan sesuatu hal yang harus dipersoalkan dan pelaku bisa saja tak merasa bersalah sama sekali," tambahnya.

(Helmi Ade Saputra)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya