Kabar tak mengenakan datang dari Seto Mulyadi. Psikolog yang biasa disapa Kak Seto tersebut mengidap kanker prostat.
Kabar tersebut disampaikan oleh Kak Seto lewat unggahan foto di Instagram. Dari unggahan tersebut, Kak Seto sempat menjalani beberapa kali pemeriksaan sebelum akhirnya didiagnosa kanker prostat.
"Dan setelah melakukan beberapa kali pemeriksaan, ternyata saya didiagnosa mengidap kanker prostat," tulis Kak Seto menyertai unggahan foto dirinya yang terbaring di tempat tidur rumah sakit dikelilingi keluarganya itu.
Lalu, apa itu kanker prostat?
Kanker prostat adalah penyakit kanker yang berkembang di prostat dan paling umum terjadi di kalangan pria dewasa. Kanker prostat terjadi ketika sel prostat mengalami mutasi dan mulai berkembang di luar kendali.
Seperti diketahui, prostat juga merupakan bagian dari sistem reproduksi pria dan berada di bawah kantung kemih. Sel kanker ini dapat bermetastasis dari prostat ke bagian tubuh lainnya, terutama tulang dan kelenjar getah bening.
Baca Juga : Kesehatan Menurun, Kak Seto akan Operasi Kanker Prostat
Metastasis ke tulang merupakan penyebaran yang paling sering ditemukan pada kanker prostat. Hal ini akan menyebabkan penderitaan yang amat sangat karena nyeri yang hebat.
Prof. Dr. dr. Aru Sudoyo, SpPS, KHOM, FINASIM, FACP mengatakan, hingga saat ini gejala kanker prostat masih sangat sulit untuk dideteksi dan termasuk dalam kategori jenis kanker yang lambat. Satu-satunya cara untuk mengetahui penyakit ini adalah dengan melakukan deteksi dini.
"Kanker ini tidak selalu disertai pembesaran pada area kelamin laki-laki. Beberapa tanda umum kanker prostat biasanya dimulai dari sulit buang air kecil, hilangnya kontrol urin, gangguan ereksi, dan nyeri pada punggung serta dada", terang dr. Aru di kantor YKI, Jakarta Pusat beberapa waktu lalu - Baca Juga : Mengenal Kanker Prostat, Penyebab Kematian Ketiga bagi Laki-Laki di Indonesia.
Siapa yang paling berisiko?
Lebih lanjut dr. Aru mengatakan, 90-95% kanker prostat sebetulnya datang dari individu masing-masing. Mulai dari faktor usia, ras, hormon, obesitas, polimorfisme genetik, gemar mengonsumsi makanan instan, pola hidup tidak sehat, serta kekurangan sinar matahari.