Dia menambahkan, anak sebaiknya tidak diajak menonton tayangan saat makan atau 1 jam sebelum tidur. Sebab, anak harus konsentrasi ketika makan sehingga tidak boleh ada interaksi lain dari luar. Sementara screen time sebelum tidur dapat menyulitkan anak untuk tidur nyenyak.
"Orangtua harus jadi contoh. Ini yang paling penting libatkan anak dalam aktivitas rumah sehari-hari. Ini bisa menjadi aktivitas fisik dalam keadaan mungkin rumah yang tidak mumpuni untuk kegiatan anak yang suka lari-larian," jelasnya.
Baca juga: Benarkah Anak-Anak Lebih Rentan Tertular Covid-19? Ini Kata Peneliti
Batita direkomendasikan untuk aktif bergerak sekira 180 menit per hari. Anak-anak yang sudah bisa berjalan dan berlari dapat diajak bermain lempar bola, atau sekadar menggambar hingga bermain masak-masakan.
Anak usia 3 sampai 6 tahun yang sedang melewati masa prasekolah bisa beraktivitas lebih berat dibandingkan umur-umur sebelumnya, seperti naik sepeda. Manfaatkan ruang di dalam rumah, atau halaman di depan rumah.
Bila tidak ada ruangan yang mumpuni untuk bermain sepeda, pengasuh bisa mengajak anak untuk bercocok tanam sebagai alternatif.
"Sekarang ada kan media hidroponik, kita bisa bercocok tanam, (ajak anak) bantu-bantu membersihkan rumah, nyapu-nyapu, ya jangan berharap itu akan bersih tapi ya setidaknya dia tahu bahwa dia ada kegiatan untuk aktif," paparnya.
Baca juga: Tidak dengan Tantrum, Ini 5 Cara Ajarkan Anak Utarakan Sikap Tak Setuju
Sementara anak usia sekolah dengan rentang umur 6 sampai 12 tahun sebaiknya diingatkan tidak terlalu terlena dengan gawai. Screen time yang direkomendasikan tidak lebih dari 90 menit. Dorong anak untuk menggunakan waktu luang dengan bergerak aktif, misalnya bermain lompat tali atau berolahraga.
Panduan serupa berlaku untuk anak usia remaja yakni 12 hingga 18 tahun. Durasi screen time yang direkomendasikan tidak lebih dari 2 jam.
(Hantoro)