Gajah liar yang sedang hamil tersebut, awalnya berasal dari Taman Nasional Lembah Silent (SVNP), Palakkad. Saat gajah itu tewas, ia tetap tenang meski sedang kesakitan luar biasa. Gajah itu tetap berdiri dan mati di Sungai Velliyar, Malappuram, dengan belalainya di air. Kondisinya sangat mengenaskan. Warganet pun merasa pilu saat melihat foto sang gajah betina tersebut di media sosial.
Gajah berusia 15 tahun tersebut mungkin merasa lega karena berdiri di air setelah lidah dan mulutnya meledak. Petugas Penjaga Hutan, Nilambur, Mohan Krishnan membagikan kejadian menyedihkan tersebut di halaman akun Facebook-nya.
Kala itu, Mohan Krishnan bertindak sebagai pejabat Tim Tanggap Cepat untuk menyelamatkan gajah, yang sedang dalam kondisi kritis. Ketika pemeriksaan postmortem dilakukan, diketahui penyebab kematian gajah adalah karena asfiksia, yaitu air masuk ke paru-paru dan trakea.
Asisten Penjaga Satwa Liar, Thrissur, dr. David Abraham juga melakukan postmortem dan mengaku sangat tersentuh dengan kejadian yang terjadi kali ini.
"Sejauh ini saya telah membuat analisa lebih dari 250 postmortem gajah, dalam dua dekade karier saya. Tapi kejadian ini paling memilukan hati saya. Karena untuk pertama kalinya saya bisa memegang janin bayi gajah dengan tangan saya sendiri. Ini membuat hati saya sangat sedih,” kata dr. David Abraham dengan suara gemetar menahan pilu.
David Abraham melanjutkan cerita, awalnya, warga tidak menyadari bahwa gajah itu tengah hamil. Setelah melihat organ hati si gajah, dr. Abraham melihat cairan ketuban dan baru paham bahwa gajah malang itu tengah hamil. Departemen kehutanan saat ini aktif menyelidiki insiden tragis tersebut.
Para penjaga hutan hingga berita ini diturunkan masih belum dapat petunjuk tempat si gajah menemukan jebakan nanas berisi dinamit.
Petugas penjaga hutan menyatakan setiap komunitas pertanian di dekat kawasan hutan terbiasa membuat perangkap untuk satwa liar dengan memakai petasan, bom papan, hingga jaring perangkap. Jebakan itu disiapkan untuk menyingkirkan hewan liar yang menyerang tanaman mereka.
Pejabat itu selanjutnya menegaskan bahwa “nanas mematikan” itu tidak sengaja dimakan sang gajah. Hal yang sama diungkap Nirmal, warga Palakkad. "Saya warga Palakkad. Masyarakat di sini, terutama yang tinggal di perbukitan, terbiasa memasang jebakan pagar listrik maupun buah-buahan yang diisi dengan petasan untuk mencegah babi memasuki area pertanian kami,” ungkapnya.
(Helmi Ade Saputra)