BAGI mereka yang tinggal di kota besar, kemacetan di jalan pastinya sudah menjadi sarapan setiap harinya. Menerobos kemacetan memang harus dilakukan jika ingin beraktivitas kerja.
Memang, bekerja menjadi aktivitas keseharian yang rutin dilakukan setiap hari oleh banyak orang. Namun, dalam bekerja disadari atau tidak kita pasti familiar dengan kondisi overwork atau kerja berlebihan.
Tingginya load pekerjaan atau harus menyelesaikan pekerjaan yang tertunda, karena situasi yang bisa tidak terhindarkan seperti banjir, mungkin membuat kita harus lembur. Akibatnya, bekerja melebihi jam kerja yang normal terkadang memang jadi situasi yang tidak terhindarkan.
Mungkin banyak yang tidak sadar bahwa mereka telah bekerja berlebihan atau overwork. Padahal, seacara langsung kelelahan karena bekerja akan berdampak negatif pada kondisi kesehatan fisik.
Seperti dikatakan dr. Laurentius Aswon Pramono, Sp.PD, M.Epid, jam kerja berlebihan nyatanya bukan cuma memicu gangguan fisik namun juga mental.
“Fisik kurang istirahat membuat imunitas turun, jadi penyakit gampang masuk. Misalnya flu, batuk batuk, pneumonia, bahkan TBC. Nah untuk mental, bisa bikin burn out yaitu stres secara mental,” ungkap dr. Laurentius Aswon Pramono, Sp.PD, M.Epid yang ditemui di Sudirman, Jakarta.
Tapi, bukan artinya kita tidak boleh lembur sama sekali, mengingat terkadang kerja lembur tidak bisa dihindari. Hanya saja, jika memang ingin lembur harus dilakukan dengan pertimbangan dan tidak setiap hari atau berkelanjutan.
Idealnya, memang sebisa mungkin selesaikan aktivitas pekerjaan yang pastinya memerlukan tenaga fisik dan mental itu dalam kurun waktu teratur delapan jam per hari.
Lantas, adakah pertanda yang bisa dirasakan, sebagai penanda harus beristirahat, sekaligus sebagai alarm tanda waspada bahwa kita sudah overwork? Menurut dr. Laurentius, tanda-tanda ini bukan hanya ada secara fisik dan bahkan secara mental.
“Burn out, stres secara mentally itu enggak boleh. Itu jenuh banget dan bisa memunculkan gangguan stres seperti cemas, depresi, psikosomatis. Sindrom lelah kronis atau chronic fatigue syndrome. Kita sudah istirahat tapi merasa enggak pulih-pulih tenaganya,” pungkasnya.
(Martin Bagya Kertiyasa)