Kuteks Cleopatra di Mesir untuk hiasan
Sekitar 50 SM, Cleopatra, ratu terakhir Kerajaan Mesir Kuno, menggunakan henna (kuteks tumbuhan) pada kukunya. Dia mencelupkan setiap jarinya ke cairan henna berwarna merah darah hingga kukunya terwarnai dengan sempurna. Sedangkan penggunaan henna ke seluruh tangan dipopulerkan oleh Nefertiti, Ratu Kerajaan Mesir Kuno ke-18.
Kuteks modern dari AS
Mary E. Cobb, perawat tangan dan kuku (manikur) pertama Amerika Serikat (AS) mempelajari seni manikur di Prancis. Kemudian pada 1878, salon manikurnya, Mrs. Pray’s Manicure resmi dibuka di AS. Dia juga menulis panduan manikur di rumah dan menciptakan papan emory alias penyangga kuku saat dimanikur.
Kuteks bubuk
Pada 1911, pelembut kutikula (lapisan sekitar kuku), Cutex diproduksi. Seiring bervariasinya permintaan pasar, Cutex akhirnya memproduksi kuteks berbahan pasta, bubuk, dan model tempel. Namun, kuteks berbahan bubuk yang populer tergeser oleh kuteks cair pada 1917.
Kuteks cair mengilap
Michelle Menard, penata rias Prancis membuat pelapis mengilap untuk kuteks pada 1920. Tak disangka, produknya itu populer di kalangan sebagian wanita hingga kini. Pada 1932, ia meresmikan toko kosmetiknya, Revlon. Revlon menjual berbagai warna pelapis kuku hingga memproduksi lipstik dan kosmetik.