WANITA memang kerap ingin tampil sempurna dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tidak heran jika semua bagian tubuhnya dipoles, dari rambut hingga kuku jari tangan dan mungkin kaki dengan kuteks.
Kuteks sangat dekat dengan kehidupan sebagian wanita. Penghias kuku yang bisa disesuaikan dengan pakaian dan riasan wajah ini membuat penampilan wanita lebih menarik.
Terlepas dari kegunaannya, perkembangan kuteks di setiap zaman juga tak kalah menarik. Dikutip dari Solopos.com, begini sejarah kuteks di dunia.
Menakuti lawan di Irak
Pada 3.200 sebelum Masehi (SM), para tentara Babilonia (negara kuno di selatan Irak) menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengeriting dan mengilapkan rambut. Mereka juga merawat dan mewarnai kuku-kuku dengan kohl (maskara kuno) sebelum ke medan perang untuk menakuti lawan.
Pemilihan warna kuku disesuaikan dengan kelas rakyat Babilonia. Warna hitam menandakan bangsawan dan hijau untuk rakyat rendahan. Bibir mereka juga diwarnai serupa dengan kuku.
Pembeda rakyat dan penguasa China
Rakyat China menggunakan pewarna kuku sebagai pembeda antara rakyat dan penguasa pada 3.000 SM. Rakyat kelas atas menggunakan bahan-bahan seperti, lilin lebah, gom arab, dan putih telur untuk mewarnai kuku mereka. Penguasa dinasti mengenakan pewarna kuku berpigmen tinggi, seperti merah.
Tak semua pewarna kuku boleh dipakai oleh rakyat China. Rakyat kelas bawah hanya boleh memakai warna pucat. Mereka akan dihukum mati bila mengenakan warna untuk bangsawan.
Sejak masa kekuasaan Dinasti Chou (600 SM), bangsawan China memanjangkan kuku dan menghiasnya dengan permata. Kuku panjang menandakan status mereka yang tidak pernah mengerjakan pekerjaan berat.