Aktif turun ke jalan meski sudah beranak dua
Sejak kecil, Titi mengaku telah terbiasa berinteraksi langsung dengan berbagai lapisan masyarakat. Ketertarikannya untuk mempelajari hal-hal berkaitan dengan perilaku manusia, budaya, hingga keanekaragaman pun semakin bertambah kuat saat ia diterima menjadi mahasiswi jurusan Antropologi di Universitas Padjajaran angkatan 1980.
Namun karena pada saat itu unjuk rasa ditentang keras oleh pemerintah, Titi baru memiliki kesempatan untuk ikut turun ke jalan bersama ribuan mahasiswa Bandung, pada tahun 1998.
"Jaman saya dulu enggak boleh ada demo-demo. Saya pertama kali ikut aksi reformasi 98. Saya tergabung dalam kelompok 'Suara Ibu Bandung'. Itu murni spontanitas dari para orangtua. Waktu itu saya sudah punya dua anak, masih kecil-kecil," tuturnya saat dihubungi Okezone via sambungan telefon, Rabu 25 September 2019.
Titi tidak pernah menyangka bahwa aksi reformasi 98 itu melebar hingga ke seluruh Indonesia. Sampai pada akhirnya terjadi penembakan di Trisakti. Tindakan represif yang dilakukan oleh aparat berhasil menggerakkan hati Titi dan beberapa temannya untuk ikut membantu.
Bersama sejumlah ibu-ibu dari latar belakang berbeda, Titi membangun dapur umum sebagai bantuan logistik untuk para peserta aksi.
"Penembakan di Trisakti itu membuat anggota kami bertambah banyak. Kami sampai bisa membuat beberapa dapur umum yang dipusatkan di beberapa kampus," ungkapnya.