Mengenal Tradisi 1 Suro, Benarkah Hanya soal Memandikan Pusaka?

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis
Sabtu 31 Agustus 2019 15:32 WIB
Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)
Share :

MALAM 1 Suro akan jatuh pada Minggu, 1 September 2019. Tentunya seluruh masyarakat Indonesia khususnya Jawa bersiap untuk menyambut Malam 1 Suro dengan semangat dan penuh kebahagiaan. Banyak tradisi maupun ritual yang digelar pada hari yang istimewa tersebut.

Meski demikian, masih banyak di antara masyarakat yang bingung dengan keistimewaan Malam 1 Suro. Melihat hal ini, Okezone menghubungi seorang Praktisi Spiritual, Mbah Mijan untuk menjawab keistimewaan Malam 1 Suro.

Menurut Mbah Mijan, Muharram atau Malam 1 Suro adalah tahun baru Islam sekaligus tahun barunya kalender Jawa. Alhasil banyak kegiatan yang dilakukan pada hari yang istimewa tersebut sesuai dengan tradisi turun temurun.

“Muharram adalah tahun baru Islam sekaligus tahun barunya kalender Jawa. Memandikan keris dan kungkum adalah warisan tradisi leluhur yang turun temurun,” kata Mbah Mijan saat dihubungi Okezone.

Berbagai ritual sengaja dilakukan pada Malam 1 Suro dengan tujuan untuk menjaga tradisi yang sudah dilakukan secara turun temurun agar tidak pudar. Selain itu ritual Malam 1 Suro juga berfungsi untuk mengenal jati diri seseorang.

“Hal ini wajib dilakukan agar generasi tidak kehilangan silsilah. Selain itu Malam 1 Suro juga bermanfaat untuk mengenal jati diri, dari mana asal usul kita dan keturunan siapa,” jelasnya.

Lebih lanjut Mbah Mijan mengatakan, tidak ada tuntutan apapun yang harus dilakukan selama Malam 1 Suro. Bahkan. tidak mau melakukan ritual apapun seperti memandikan keris maupun kungkum pun tak masalah. “Namun bagi orang Jawa, ini perayaan tahun baru kalender Jawa, yang harus dikenang,” sambungnya.

Di sisi lain Malam 1 Suro juga dianggap sebagai bulan yang penuh berkah dan bulan yang sakral. Oleh sebab itu, momen ini kerap dijadikan waktu untuk membersihkan pusaka agar jauh dari hal negatif. Namun, disarankan momen ini digunakan masyarakat lebih dekat dengan sang pencipta.

“Selain bulan puasa, bulan Suro juga dianggap sebagai bulan yang penuh berkah, bulan sakral, maka selain bersih diri dan membersihkan pusaka dari hal negatif. Kita disarankan untuk bermunajat, bertafakur kepada Allah, serta berpuasa atau tirakatan dengan tujuan meminta keberkahan hidup,” tuntasnya.

(Martin Bagya Kertiyasa)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya