SAMPAH masih menjadi masalah terberat yang dialami Ibu Kota. Menurut data yang diterima oleh Waste4change, sebanyak 7.500 ton sampah masuk setiap harinya menuju Bantar Gebang. Sampah dengan jumlah yang banyak itu masuk dan hanya dibuang begitu saja.
Lebih parahnya lagi, salah satu zona timbunan sampah tertinggi di Bantar Gebang, tingginya hampir sama dengan atung Pancoran. Diprediksi jika tidak dapat dikelola dengan baik, maka Bantar Gebang tidak akan mampu menampung tumpukkan sampah lagi hingga 2021 mendatang.
Tak hanya itu, sistem pengelolaan sampah di Indonesia juga masih kurang diperhatikan. Sekiranya 81 persen sampah yang tidak terpilah maka dapat menurunkan harga material seperti plastik dan kertas yang notabene mendominasi sampah.
Project Executive Waste4Change, Pandu Priyambodo, mengatakan saat ini hanya ada 7,5 persen sampah yang ditreatment dengan cara dikompos atau ditanam. Pandu mengatakan bahwa kesadaran akan pengelolaan sampah harus dimulai dari hulu, yakni berasal dari dalam diri seseorang.
“Semuanya harus dimulai dari hulu yakni dari diri sendiri. Ada tiga cara yang bisa digunakan yakni Reduce, Reuse, Recycle. Salah satu contoh reduce adalah dengan menggunakan totebag untuk mengurangi sampah plastik. Selain itu ada juga reuse dengan menggunakan kembali barang yang telah digunakan dan recycle dengan mengolah kembali barang bekas,” tutur Pandu, dalam acara Lock&Lock, Kamis (18/7/2019).