PERNAH berpikir benar enggak sih apakah membaca nasib lewat kartu tarot tepat atau enggak? Itulah yang saya pikirkan. Kadang-kadang ketika melihat orang meramal tarot di film, saya juga ingin bisa membaca kartu-kartu tersebut.
Nah, kebetulan Tarot Professional Reader, Elisabet Kusumodewi, mengadakan workshop di Jakarta. Kesempatan ini pun tidak saya sia-sia kan, saya mencoba mengikuti workshop yang diadakan olehnya.
Wanita yang sering di sapa Mbak Dewi ini juga mengatakan, semua orang bisa membaca tarot, terutama jika memiliki niat dan kemauan. Berbeda dengan pemikiran orang kebanyakan mengenai tarot, tidak ada kesan mistis atau horror sedikit pun di acara yang dilaksanakan di sebuah cafe di daerah Blok M ini.
Sebelum memulai, peserta workshop dipersilahkan memperkenalkan diri dan menjelaskan alasan kami mengikuti workshop dan ketertarikan kepada tarot.
Datang dari berbagai macam latar belakang, satu persatu mulai menceritakan kisah awal mula mengapa tertarik dengan tarot, hingga akhirnya kami memutuskan untuk mulai mempelajarinya dan mengikuti workshop ini.
Mbak Dewi menyebut, tarot bukanlah sekadar hobi, tetapi bisa menjadi ladang penghasilan. Bahkan, beberapa orang yang pernah mengikuti workshopya yang terdahulu, kini menjadi tarot reader profesional.
Saat ditanya apakah tidak takut jika banyak saingan sebagai tarot reader, Mbak Dewi menjawab: "Analoginya seperti fakultas kedokteran yang banyak peminatnya, banyak orang belajar buat jadi dokter. Lalu apakah dokter yang sudah bekerja takut punya banyak saingan?" Ucapnya.
"Saya malah dapat banyak ilmu baru dari teman-teman saat belajar bersama. Jadi masalah seperti itu biarkan semesta yang mengatur," tambahnya sambil tersenyum.
Disodorkan dengan hal baru, saya pun sangat bersemangat apalagi kartu-kartu tarot benar-benar akan memicu intuisi kita. Memang, selain untuk meramal nasib, tarot juga bisa menjadi media healing bagi diri kita sendiri.
Mbak dewi menambahkan, tarot tidak hanya menyembuhkan masalah klien, tapi juga menyembuhkan si pembaca. Saat sesi konsultasi dan pembacaan kartu, secara tidak langsung si pembaca akan disadarkan dan berusaha memperbaiki dirinya sendiri.
Sejarah Kartu Tarot
Kartu tarot berasal dari Italia. Pada awalnya, permainan dengan media kartu tarot disebut Carde da Trionfi atau Kartu Kejayaan. Bukti sejarah berupa dokumen yang disalin pada abad 1442-1463 menyebutkan bahwa jenis permainan dengan media kartu tarot bernama Trionfi.
Baru setelah mendapat pengaruh dari Prancis, nama Trionfi berubah menjadi Tarocchi. Popularitas kartu tarot diperkirakan bermula sejak Antoine Court de Gebelin menerbitkan sebuah buku pada tahun 1781, yang mengungkapkan bahwa pendeta-pendeta Mesir Kuno telah melukis kartu tarot berdasarkan buku Thoth.
Mereka kemudian membawa gambar-gambar tersebut ke Roma untuk dipersembahkan kepada Paus, yang selanjutnya memperkenalkan tarot hingga ke Avignon, Prancis, pada abad ke-14. Namun penjelasan Court de Gebelin ini dianggap tidak akurat karena tidak didukung oleh bukti-bukti sejarah dan ditulis sebelum Champollion berhasil menerjemahkan bahasa Mesir Kuno, Hieroglif.
Gereja Katolik dan pemerintahan daerah di Eropa tidak melarang permainan tarot. Di beberapa daerah bahkan warganya diperbolehkan memainkan tarot, sekalipun permainan kartu sejenis lainnya jelas-jelas dilarang. Namun "hak eksklusif" dari kartu tarot tersebut tidak berlangsung lama.
Pada akhir abad ke-14, seorang penceramah dari Swiss, Johannes von Rheinfelden, secara tiba-tiba menyerang perjudian dan aneka permainan kartu, termasuk kartu tarot.
Kartu tarot tertua dibuat pada awal hingga pertengahan abad ke-15 Ada tiga set kartu tarot yang semuanya adalah milik keluarga Visconti-keluarga yang paling berkuasa di Milan saat itu.
Kartu-kartu tersebut kemungkinan besar merupakan karya lukis Bonifacio Bembo dan pelukis miniatur dari Ferrara. Tujuan diciptakannya kartu-kartu itu untuk merayakan perkawinan antara keluarga Visconti dengan Sforza.
Hingga kini terdapat 35 kartu yang tersimpan di Perpustakaan Pierpont Morgan, 26 kartu di Accademia Carrara, 13 kartu di Casa Calleoni, sedangkan 4 kartu yang lain yaitu Devil, Tower, Three of Swords, dan Knight of Coins tidak ditemukan.
Dalam set kartu tersebut, Arkana Minor dan Arkana Mayor digabungkan untuk merefleksikan ikonografi konvensional pada saat itu.
Ilustrasi dan interpretasi tarot pun berkembang sejalan dengan masanya. Seringkali ilustrasi tarot dibentuk untuk melayani pandangan mistis dan kebutuhan penggunanya. Seniman Pamela Colman Smith melukis satu set lukisan arkana mayor, yang didasarkan pada interpretasi Arthur Edward Waite.
Hasil karya mereka kemudian diterbitkan oleh perusahaan percetakan Rider Company. Kartu inilah yang menjadi kartu tarot paling populer untuk saat ini.
Tarot yang dibagikan oleh Mbak Dewi adalah versi Rider-Waite-Smith, versi tarot paling populer saat ini. Selain itu, versi ini menjadi salah satu yang mudah dipahami bagi pemula.
Kartu tarot Rider-Waite-Smith terdiri dari 78 kartu, yang terbagi dalam dua kelompok besar atau disebut Arkana, yaitu Arkana Mayor yang terdiri dari 22 kartu, dan Arkana Minor yang terdiri dari 56 kartu.
Arcana merupakan bentuk jamak dari organum, yang artinya "penuh rahasia" atau yang berarti juga rahasia alam. Sebanyak 22 buah kartu Arkana Mayor yang memiliki angka 0 sampai XXI disebut sebagai kartu trump, yang berarti ke-22 kartu tersebut memiliki keunggulan dibandingkan dengan kartu-kartu yang masuk dalam kategori Arkana Minor.
Kartu-kartu tersebut memiliki masing-masing elemen dasar. Contohnya adalah The Fool, dengan elemen Udara; The Magician, dengan elemen Air; The High Priestess, dengan elemen Tanah; dan The Empress, dengan elemen Api
Mbak Dewi pun menjelaskan satu persatu makna dari tiap-tiap kartu Arkana Mayor. Menurutnya warna kartu juga ikut melambangkan sesuatu. Misalnya warna cerah yang berarti kebaikan, atau warna hitam dan putih yang memiliki arti buruk dan baik.
Sementara untuk Arkana Minor yang berjumlah 56 kartu, Mbak Dewi mempersilahkan peserta workshop secara bergantian membaca arti kartu tarot dari sudut pandang kami.
Berbeda dengan Arkana Mayor, kartu-kartu Arkana Minor dari As sampai angka 10. Dari urutan dan essensi element yang mendasarinya, Kartu As Tarot terdapat dalam setiap wujud Element dasar dan secara umum dikenal sebagai beriku :
Pedang, melambangkan segala sesuatu yang berkaitan dengan pemikiran dan ide dengan elemen dasar Udara; Tongkat, merupakan nafas kehidupan dan memberikan energi dengan elemen dasar Api; Cawan, merepresentasikan rasa dan estetika dengan elemen dasar Air; dan Koin, merepresentasikan soliditas dan ide original atau dasar dengan elemen dasar Tanah.
Setelah mengenal seluruh kartu tarot, peserta workshop dijelaskan bagaimana cara menggunakan kartu tarot. Pertama, kartu tarot harus dikocok dengan penuh perasaan. Setelah dirasa cukup, kartu tarot dijajarkan secara tertelungkup di atas meja dengan berbagai bentuk variasi sebaran. Mbak Dewi percaya bahwa setiap posisi dalam sebaran memiliki makna khusus dan penting.
Setelah berjajar rapi, kami diminta untuk mulai membuka kartu dan kemudian merefleksikan energi-energi yang ada pada kartu tersebut. Selain dengan menyebarkan kartu,
Setelah mengenal seluruh kartu dan cara menggunakannya, perserta langsung praktek membaca kartu tarot secara berpasangan. Secara bergantian mereka mencoba mengambil pesan yang terdapat pada kartu dan mengikuti intuisi.
Psikolog Sigmund Freud pernah membahas dalam teori alam bawah sadarnya bahwa simbol-simbol dalam kartu tarot inilah yang kemudian memberikan sugesti kepada manusia untuk menjawab pertanyaan atau memberikan saran dalam menyelesaikan masalah kepada pihak kedua yang datang "berkonsultasi".
Jadi tidak heran jika kesan mengenai tarot adalah permainan ramal meramal seakan-akan sang praktisi (pembaca) kartu tarot telah mengetahui jawabannya terlebih dahulu.
Secara ilmiah hal ini sulit diterima oleh beberapa pihak. Teori tentang alam bawah sadar ala kartu tarot ini bahkan dianggap sangat bertentangan dengan dunia barat yang lebih mengedepankan logika atau pemikiran logis, ilmu pasti, dan teknologi dunia modern.
Demikian juga halnya dengan dunia timur yang konon masih mempercayai adanya kekuatan gaib, klenik, mistis, eksklusifisme, dan cenderung lebih agamis. Kontroversi mengenai teori alam bawah sadar ini semata-mata karena hal tersebut sangat sulit dan samar untuk diuraikan secara logika.
Tapi ilmu itu bagaikan sebuah pisau, tergantung dari sudut mana kita bisa meyakini sebagai sesuatu yang berguna atau tidak. Dengan segala kontroversinya, permainan dengan media kartu tarot merupakan bagian dari sebuah ilmu pengetahuan yang terus berkembang sejalan dengan zaman.
Tapi, yang saya pelajari adalah pembacaan tarot bukanlah kegiatan yang bersifat mistis atau terkesan "mistis" karena banyak melibatkan kemampuan batin kita.
Ada 3 area utama kemampuan batin yaitu, kepekaan melihat, kepekaan mendengar, dan kepekaan perasaan.
Kepekaan melihat adalah melihat apa yang sedang terjadi dalam dimensi yang tidak terlihat atau kasat mata. Kepekaan mendengar adalah mendengarkan sesuatu di luar batas normal yang dapat didengarkan. Dan kepekaan merasakan yaitu memahami atau merasakan apa yang tidak terlihat.
Selain ke-3 kepekaan tersebut, ada beberapa cara menerima pesan dari intuisi atau indra keenam yang lain.
Yang pertama adalah psikometri yaitu melihat tanpa menggunakan mata, misalnya melihat ke objek, membaca karakter seseorang.
Yang Kedua ada telepati yaitu melihat ke dalam pikiran-pikiran orang lain dan memproyeksikan pikiran kita ke dalam pikiran orang lain.
Kemudian ada mimpi yang mana beralih ke frekuensi batin pada saat tidur dan membawa kembali informasi yang diperoleh ke dalam hidup sehari-hari, dengan menafsirkan simbol-simbol dan bayangan-bayangan yang muncul di dalam mimpi.
Selanjutnya adalah peramalan yaitu melihat ke masa depan dengan menggunakan alat-alat bantu peramalan, misalnya bola kristal, kartu tarot, daun teh, dll.
Kelima yaitu Prekognisi atau pengetahuan atas peristiwa-peristiwa sebelum terjadi. Dan yang terakhir adalah berkomunikasi dengan roh atau disebut juga perantara atau medium.
Begitulah pengalaman baru yang saya dapatkan selama mengikuti workshop yang diadakan Mbak Dewi. Selama ada kemauan belajar dan mengasah kepekaan, semesta akan membantu mengartikan semuanya.
(Martin Bagya Kertiyasa)