“Banyak yang datang. Katanya penasaran sama cara buatnya. Awalnya mereka datang karena tertarik dengan Masjid Jogokariyan yang kasnya sampai nol ruiah, dan itu memang benar mas. Semua yang bekerja di sini digaji, dari masak nasi, lap-lap piring, cuci piring, menyusun lauk, memasak lauk, semuanya digaji satu bulan," jelas Bu Poniman yang ditemui saat mencuci alat-alat masak yang masih ditempeli sisa-sisa nasi.
Menjelang ashar biasanya pekejaan memasak nasi telah usai. Pernah beberapakali juga setelah ashar. Jika sudah begitu, nanti akan ada yang datang mengambil berkilo-kilo nasi yang telah dimasak oleh Bu Siti Kasih (60) dan kawan-kawan.
Tidak semua yang bekerja di sini merupakan masyarakat asli, namun ada pula musafir yang membantu. “Ada dua orang laki-laki yang ngangkat nasi, yang satu musafir, dari Tasikmalaya," jelas bu Poniman..
Pekerjaan selanjutnya yang ada di depan mereka adalah membersihkan perabotan yang digunakan untuk memasak nasi dan merapikan serta membersihkan dapur. Lalu, setelah itu membersihkan diri di kamar mandi masjid. "Mandinya disini, bawa baju ganti. Sebelum tarawih sudah pulang. Kalo mau tarawih ya balik lagi sini," kata Bu Yati.
Ketika dalam masa senggangnya seperti itu, biasanya keluarga datang berkunjung. Kadang anak, kadang juga cucu yang mendesak nenek mereka untuk lebih sering di rumah. Memang masing-masing dari mereka sudah membawa perlengkapan mandi plus baju ganti, tapi tetap seja kerinduan dari keluarga dapat menembus apa saja.
Sehabis bersih-bersih, keempat ibu-ibut tadi pasti sigap berganti tempat ke halaman masjid. Di sana sudah menunggu para ibu lainnya yang telah siap dengan lauk berbuka. Ribuan piring tersusun rapi bertingkat-tingkat di halaman masjid.
Kisaran pukul 16.00, tangan ibu-ibu Jogokariyan dengan cepat menuangkan nasi, lauk, piring, ke dalam satu urutan waktu yang teratur. Sama halnya dengan Bu Eko dan kawan-kawan yang begitu rapi berbagi tugas, yang terjadi saat proses peracikan menu berbuka juga demikian. Mulai dari proses nasi pindah ke piring, hingga piring yang siap santap ke meja hidangan seperti sebuah alur cerita yang tersusun dengan rapi.
Di sepanjang jalan menuju Masjid Jogokariyan diadakan festival makanan berbuka yakni Kampung Ramadhan Jogokariyan yang telah berlangsung selama 15 tahun. Seorang Pedagang menyatakan pendapatannya tidak terganggu dengan adanya makanan gratis dari masjid.
“Alhamdulilah ramai terus jualannya walaupun ada takjil dari masjid,” kata Bu Fani, salah seorang penjual kepada KRjogja.com..
Tua, muda, laki-laki, perempuan, berbondong-bondong mempersiapkan menu berbuka. Jam 5, ceramah dari ustad yang terjadwal mengiringi langkah kaki mereka yang sibuk mondar-mandir mengantarkan piring-piring berisi santap buka ke meja hidangan.
Jemaah tumpah ruah mengisi masjid hingga pekarangan Masjid Jogokariyan. Jalanan sekitar masjid digelar tikar untuk menampung para jamaah yang terus berdatangan. Sistem pembagian santap berbuka dilakukan masing-masing. Panitia menyediakan dan jemaah mengambil.
(Dinno Baskoro)