SALAH satu aspek pengasuhan yang paling penting namun sangat sensitif adalah melindungi anak dari gangguan apapun. Orangtua mana sih yang tidak akan sedih dan kesal saat mendengar anak pulang menangis atau kesal tentang perilaku orang lain?
Biasanya situasi ini sukses tidak hanya membuat frustrasi, tetapi juga membuat kita sebagai orangtua merasa tidak berdaya. Inilah alasan mengapa sangat penting bagi orang tua untuk dapat membedakan antara jenis-jenis intimidasi.
Menyadari jenis penindasan tidak hanya dapat membantu kita sebagai orangtua menangani seluruh situasi dengan cara yang lebih baik, tetapi juga dapat mempersiapkan diri untuk membantu anak. Maka dari itu, memahami apa saja tipe-tipe bullying atau penindasan terhadap anak, sebagai antisipasi untuk melindungi anak tercinta penting adanya. Untuk yang masih bingung seperti apa sih tipe-tipe penindasan tersebut? Berikut pemaparan empat tipe bullying yang harus diwaspadai para orangtua, sebagaimana dilansir Timesofindia, Kamis (23/1/2019).
1. Penindasan fisik
Ini adalah jenis penindasan yang paling umum, terjadi ketika pelaku yang lebih besar dalam ukuran dan bertubuh kuat, mencoba mengintimidasi yang lebih lemah. Ini bisa termasuk memukul, menendang, meninju, menyandung, menghalangi jalan dan bahkan menarik rambut bahkan melibatkan sentuhan dengan cara yang tidak pantas. Untuk mengidentifikasi tindak bullying satu ini, orangtua harus peka mencari misalnya bekas memar atau luka yang biasanya tidak dapat dijelaskan karena anak-anak jarang memberi tahu orang tua mereka tentang apa yang sedang mereka alami.
Baca Juga: Ditolak karena Gemuk, Bebe Rexha Blacklist Beberapa Desaigner
2. Penindasan verbal
Intimidasi verbal melibatkan penggunaan kata-kata dan pernyataan yang menyakitkan, pemanggilan nama, dan bahkan ancaman. Kata-kata dan komentar yang kejam ini dibuat dengan tujuan utama untuk menyakiti seseorang. Komentar tersebut mungkin termasuk penghinaan pada penampilan fisik, jenis kelamin, agama seseorang atau bahkan cara mereka berperilaku. Ini juga melibatkan mengejek cara seseorang berbicara.
Dari luar, memang ‘bekasnya’ tidak terlihat. Maka dari itu, sebagai orangtua kita harus peka terhadap perubahan sikap anak. Misalnya anak tiba-tiba menutup diri, menarik diri, jadi sensitif, moody-an, atau merasa rendah diri. Jika keadaan bertambah buruk, bisa langsung berbicara dengan pihak sekolah untuk mencari cara yang lebih baik untuk menghadapi intimidasi verbal ini. Ajari juga pada anak bagaimana membela dirinya sendiri alih-alih mengajari mereka untuk mengabaikan komentar yang menyakitkan.
Baca Juga: 5 Kompilasi Surat Tulisan Tangan Ahok Selama di Tahanan
3. Cyberbullying
Disebutkan sebagai jenis intimidasi yang paling sulit dikenali dan mungkin yang paling berbahaya. Salah satu contoh kasusnya, di mana anak-anak dan remaja melakukan bunuh diri atas nama yang disebut tantangan, termasuk tantangan Blue Whale dan Momo. Ini bisa dikatakan jadi bukti bahwa internet dapat menjadi tempat yang berbahaya. Bentuknya mulai dari membuat ancaman online hingga mengirim teks dan email yang menyakitkan dan menakutkan.
Well, orangtua disarankan perlu memonitor jumlah waktu yang dihabiskan anak di dunia maya. Perhatikan juga apakah anak bangun di jam-jam yang tidak biasa atau menghabiskan banyak waktu online, apakah anak jadi sulit tidur atau berhenti bermain di luar. Ketika Anda curiga anak mengalami penindasan tipe ini, pertama dan terpenting kita perlu memperkuat keamanan internet di rumah. Tetapkan batas waktu untuk aktivitas online yang dapat dinikmati anak-anak. Jangan lupa untuk memblokir situs web yang berpotensi berbahaya sebelum membiarkan anak bermain gadget serta tetap periksa aktivitas online anak di dunia maya.
Baca Juga: 4 Alasan Orang Tetap Bertahan meski Pernikahan Tidak Bahagia
4. Penindasan relasional
Jenis tindakan intimidasi yang dasarnya bersifat licik. Misalnya mengusir seseorang dari bagian dari kelompok, memanipulasi reputasi seseorang, atau menyebarkan rumor buruk. Jenis intimidasi ini dapat terjadi di mana saja, di mana si pelaku intimidasi sering menggunakan statusnya sendiri dalam kelompok untuk merendahkan atau mendominasi orang lain.
Perhatikan baik-baik bagaimana anak berinteraksi dengan teman-temannya. Jika anak menjadi penyendiri dan tidak ingin terlibat dalam kegiatan sosial apa pun, itu bisa menjadi tanda loh. Segera ajak anak untuk berdiskusi dengan percakapan tentang bagaimana perasaan mereka tentang diri mereka sendiri dan apa yang membuat mereka bahagia. Semangati anak untuk mengikuti hobi mdan mengembangkan bakat mereka. Jelaskan pada anak, biasanya anak-anak yang menjadi pengganggulah yang paling membutuhkan bantuan karena memiliki rasa tidak aman di dalam diri.
(Utami Evi Riyani)