Kala itu, Fenny menyumbangkan sampel biji tomat seberat 100 gram atau 500-800 biji. Biji tomatnya sendiri berasal dari Lembang yang telah dikeringkan dan disteril di dalam kantung plastik khusus yang diberikan JAXA. Sampel ditempatkan di antariksa selama dua bulan, lalu dibawa kembali ke Indonesia melalui Amerika Serikat.
Dari hasil eksperimen tersebut, biji tomat dibagi menjadi dua kategori untuk dipakai riset iTB (ditanam di Cihanjuang, Lembang) dibandingkan dengan tomat ‘kontrol’ yang tidak di bawa keluar angkasa, juga dengan perlakuan simulasi klinostat 3D (alat untuk simulasi microgravity). Setelah diamati, tomat ‘kontrol’ ternyata tumbuh lebih baik dan banyak buahnya.
“Tujuan misi ini memang untuk mengetahui effect luar angkasa terhadap biji tomat. Selanjutnya kami akan mengirimkan sampel pisang ke Stasiun Antariksa Internasional, namun sayang masih terkendala dana riset. Harusnya 2017 kemarin diberangkatkan lagi, proposal sudah disapprove oleh Lapan dan JAXA Jepang. Sementara batas akahirnya tahun depan,” tukas wanita yang berhasil menciptakan alat khusus untuk menunda kematangan pisang itu.
(Helmi Ade Saputra)