SEBAGIAN besar ibu melahirkan biasanya memproduksi susu (ASI) dalam jumlah yang besar. Terkadang kadar ASI yang dimiliki ibu menyusui melampaui kebutuhan yang dimiliki oleh sang bayi. Alhasil kelebihan ASI tersebut harus dikeluarkan dan disimpan di lemari pendingin agar dapat terus digunakan.
Baru-baru ini seorang sosialita Thailand telah mendapatkan kritik dari para dokter dan para ahli setelah ia menyumbangkan ASI-nya sendiri kepada ibu-ibu lain. Aksi pembagian susu yang dilakukan Passavee “Numwan” Payacaboot telah menjadi populer secara online setelah menerima perhatian media sejak minggu lalu.
Sudah 6 Tahun Menikah Wanita Ini Masih Perawan, Kok Bisa?
Dalam wawancara dengan media lokal pekan lalu, Passavee mengungkapkan bahwa dia memutuskan untuk membantu ibu-ibu dengan masalah laktasi. Pasalnya, ia secara alami menghasilkan banyak susu. Menurutnya, secara normal seorang ibu akan memproduksi hingga sekira 900 mililiter (3,8 cangkir) ASI setiap harinya. Menurut Passavee, ia sengaja menyimpan kelebihan susunya dalam kantong tertutup, dan diletakkan ke dalam 15 lemari pendingin. Ia mengaku turut merasakan bagaimana perasaan seorang ibu yang harus menghidupi buah hatinya tanpa dibekali ASI yang cukup. Hal inilah yang menjadi latar belakang Passavee membantu para ibu dengan mendonorkan kelebihan ASI nya tersebut.
"Ada begitu banyak kemungkinan masalah dari ibu yang tidak bisa menghasilkan susu, atau jika ibu telah menjalani operasi dan memiliki komplikasi medis. Dalam beberapa kasus, orang tua meninggalkan anak-anak mereka sendiri tanpa memberinya ASI. Saya tidak bisa melihat masalah ini dan ingin membantu,” tutur Passavee, sebagaimana dilansir dari Next Shark, Senin (15/10/2018).
Passavee juga mendirikan sebuah tempat bernama Klinik Filoga, sebagai bank ASI-nya. Klinik tersebut telah menarik sejumlah besar ibu baru yang membutuhkan ASI untuk anaknya.
Popularitas kampanye Passavee yang semakin meningkat telah mendorong beberapa dokter untuk berbicara menentang menyusui bayi dengan ASI orang lain. Banyak ahli mengatakan bahwa ASI dari orang lain memiliki bahaya medis. Menteri Sekretaris Kesehatan Publik, Dr Pornpimol Wipulakorn adalah salah satu dari mereka yang keberatan dengan adanya praktik pembagian susu yang tidak diatur.
Dalam sebuah pernyataan, Pornpimol menekankan bahwa tidak peduli seberapa baiknya kualitas ASI sang donor, namun berbagi susu yang tidak diregulasi dengan yang lain dapat menimbulkan banyak potensi risiko kesehatan.
Ia mencatat bagaimana menyumbangkan susu di bank ASI, harus diuji, didesinfeksi, diawasi ketat dan dipasteurisasi sesuai dengan standar medis. Profesor ilmu kedokteran anak Chulalongkorn, profesor pediatrik, Yong Poovorawan, menggemakan sentimen serupa melalui postingan di akun sosila media, Facebook.
Dalam posnya, Yong menjelaskan bahwa bio-material seperti darah dan ASI dapat menularkan kuman dan penyakit. "Setiap donasi harus disaring, bahkan jika donor telah disaring sebelumnya," tulis Yong.
Menanggapi kritik yang berkembang secara online, suami Passavee Navin "Ta" Yaowapholkul mengambi masalah ini ke Instagram untuk menjelaskan alasan utama mereka. Mereka mengaku memulai kampanye ini dan mencatat tindakan pencegahan keselamatan yang mereka ikuti untuk mewujudkannya.
“Kami memulai kampanye ini dengan perhatian dan pemikiran yang sangat teliti, tetapi tentu saja, tidak ada apa pun dalam kehidupan yang datang tanpa risiko. Kami bekerja dengan dokter berpengalaman dengan keahlian luar biasa dalam bidang ini di Klinik Filoga. Sayangnya, dokter kami tidak suka menggunakan Facebook," tambah Navin.
Menurut dewan direksi Academy of Breastfeeding Medicine (ABM), tindakan keamanan tertentu diperlukan saat mengambil bagian dalam pembagian ASI. Kelompok itu menulis dalam jurnal Breastfeeding Medicine bahwa keputusan untuk melakukan pembagian ASI hanya boleh dilakukan dengan panduan seorang dokter.
“Donor harus ditanya tentang riwayat medis, obat-obatan, (dan) praktik sosial mereka (yaitu penggunaan narkoba / tembakau / alkohol). Catatan prenatal ibu donor harus ditinjau. Setiap tes skrining infeksi setelah melahirkan harus ditinjau ulang,” tutur Dr. Natasha Sriraman, selalu penulis utama jurnal tersebut.
(Santi Andriani)