Salah satu penjual dodol yang cukup terkenal adalah Kutong. Lelaki berusia 56 tahun itu mengaku sudah membuat dan menjual dodol Betawi sejak tahun 1995.
"Saya bikin dari tahun 1995, waktu itu harga jualnya masih Rp 1.500 untuk satu kilo kue," kata Kutong, saat ditemui di kediamannya di Desa Rawakalong, Gunung Sindur, Bogor, baru-baru ini.
Menurut Kutong, ia mendapatkan keahlian membuat dodol dan kue keranjang setelah bekerja dengan seseorang. "Dulu saya kerja sama orang keturunan. Ilmunya saya ambil, terus saya kerjain di rumah. Alhamdulilah bisa," ujarnya.
Kutong mengaku membuat dodol dan kue keranjang cuma setahun sekali, menjelang Idul Fitri. "Karena dodol sama kue Cina itu kan makanan orang Betawi. Jadi kalau mau lebaran memang banyak yang cari. Apalagi orang sekarang mah buat dodol sama kue Cina ribet, makan waktu, jadi mending beli," jelas lelaki asal Betawi tersebut.
Biasanya, Kutong memproduksi dodol dan kue keranjang lima hari setelah puasa. "Produksinya itu paling meningkat pas seminggu mau lebaran. Itu benar-benar cape dah ngerjainnya," katanya.
Karena banyaknya pesanan, Kutong membuat dodol dan keranjang hingga memakan bahan 6-8 ton beras ketan. "Bahannya saya giling sendiri. Alatnya punya sendiri. Kayu buat bakar saya beli satu truk. Kayunya harus kayu rambutan, karena kalau bukan kayu rambutan rasanya beda," kata Kutong mengungkap sedikit rahasia dapurnya.
Dapur pembuatan dodol dan kue keranjang ada di belakang rumah Kutong dengan luas kira-kira 15x5 meter. Di dalamnya terdapat satu wajan untuk membuat dodol. Selain itu juga ada dua alat pengukus berukuran besar untuk membuat kue keranjang alias kue Cina.