BINTHE Biluti nyaris dilupakan kebanyakan warga Gorontalo pada masa sekarang, hingga seorang perempuan meraciknya kembali dan menyajikannya dalam bentuk yang lebih segar.
Dalam bahasa Gorontalo, Binthe berarti jagung dan biluti berarti menyangrai. Binthe Biluti adalah jagung yang diolah dengan cara disangrai atau digoreng tanpa minyak.
Berkat tangan cekatan Hasnah Djamil (36), kini makanan berbahan dasar jagung lokal tersebut mencuri hati para penikmat kuliner lokal dan wisatawan.
Membuat Binthe Biluti bagi Hasnah bukan hal yang rumit. Ia makan masakan ini sejak kecil dan mengamati cara mengolahnya. Ibunya kerap membuatkannya sebagai menu utama maupun makanan tambahan bagi keluarga.
"Ibu saya sering memasak Binthe Biluti sehingga lidah saya terbiasa. Dari ibu pula akhirnya saya memiliki ide untuk memopulerkan kembali Binthe Biluti," ungkapnya.
Baca Juga: Salah Prediksi, Dokter di India Potong Mr P Bayi yang Baru Lahir
Tangan-tangan Nana, begitu ia akrab dipanggil, dengan cekatan memisahkan biji jagung dari tongkolnya. Jagung-jagung yang sudah dipipil lalu dibersihkan dan siap disangrai.
Bila dahulu Binthe Biluti disangrai tanpa minyak, maka Nana mencoba untuk berkreasi dalam meracik Binthe Biluti buatannya.
Ia menambahkan sedikit mentega ke dalam jagung yang disangrai agar rasa yang diperoleh menjadi lebih gurih dan tekstur jagung lebih lembut.
Menurut dia, Binthe Biluti kurang digemari generasi muda Gorontalo saat ini. Hal itu, antara lain karena tekturnya keras sebagai akibat jagung yang disangrai sudah tua.
Oleh karena itu, ia menyadari bahwa harus ada hal yang baru, bila ingin kuliner itu terus ada.
Nana menyangrai jagung muda selama satu jam, agar matang dan aromanya menarik selera konsumen.
Pegal karena terus mengaduk di wajan bukan persoalan besar buatnya, karena yang penting tingkat kematangan jagung merata.
Jagung hasil sangrai kemudian dicampurkan dengan udang kecil (gami/ebi) segar, kelapa parut, serta bumbu bawang merah, garam dan cabai yang telah dihaluskan.
Ia memilih udang yang hidup di air tawar Danau Limboto, dibandingkan dengan udang dari laut. Udang-udang itu dipesan langsung dari nelayan, demi mendapatkan yang paling segar. Nana menilai rasa udang danau lebih gurih dibandingkan dengan udang laut.
Agar lebih nikmat disantap, ibu dua anak itu menyajikan Binthe Biluti bersama "gohu putungo" yakni campuran sayur jantung pisang, kelapa, daun pepaya, dan bumbu.
Semua bahan yang digunakan untuk membuat kuliner khas daerah setempat masih segar.
"Itu syaratnya. Jagung saya pilih yang baru saja dipanen, udangnya baru ditangkap dan sayurannya tidak boleh yang sudah layu," katanya dengan penuh semangat.