MASYARAKAT saat ini tengah dihebohkan dengan merebaknya wabah difteri. Namun pemerintah mengimbau agar tidak panik dan mengikuti prosedur pemerintah yakni memberikan anak-anak imunisasi ulang.
Di beberapa provinsi, penyakit difteri merebak bahkan sudah merenggut banyak nyawa orang. Agar tidak semakin meluas, pemerintah turun tangan melaksanakan Outbreak Response Immunization (ORI) sejak 11 Desember 2017.
Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan Kementerian Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dr Sigit Priohutomo mengatakan, masyarakat sebaiknya tidak panik saat menghadapi masalah ini. Melainkan disarankan untuk melakukan imunisasi ulang sesuai prosedur.
"Saya harap masyarakat jangan panik, pemerintah akan terus melakukan upaya pencegahan agar penyakit ini tidak menyebar semakin luas," ucapnya lewat siaran pers yang diterima Okezone, Rabu (13/12/2017).
Masyarakat diharapkan tidak ragu-ragu untuk melakukan imunisasi pada anak-anak. Apalagi kalau di sekitar Anda sudah terjadi wabah difteri.
Karena difteri merupakan penyakit yang sangat cepat menular. Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diptheriae dan pemerintah telah menetapkan statusnya sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).
"Ingat, difteri tergolong wabah penyakit yang mematikan. Seseorang bisa sulit bernapas karena ada membran putih yang menutup jalur pernapasan, imbuhnya.
Baca Juga:
Sementara itu, berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan per November 2017 menyebutkan, ada 95 kabupaten dan kota dari 20 provinsi yang melaporkan kasus difteri. Secara keseluruhan terdapat 622 kasus, 32 diantaranya meninggal dunia.
Terapkan PHBS
Selain melakukan vaksinasi,ada langkah yang juga harus dilakukan masyarakat agar terhindari dari penyakit difteri. Nur Afiyah, salah satu dokter di Puskesmas Cipayung mengimbau masyarakat Indonesia untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Menerapkan perilaku PHBS ini sangat penting agar tubuh terlindungi dari kontaminasi bakteri penyakit. Pasalnya, tidak hanya balita yang dapat terjangkit wabah difteri, orang dewasa pun memiliki kemungkinan terkontaminasi bakteri Corynebacterium diphtheria, terutama bagi mereka yang tinggal di kawasan endemis (tempat terjadinya KLB).
Deteksi gejala difteri
Difteri adalah infeksi yang terjadi di hidung dan tenggorokan. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheria. Bakteri ini memengaruhi selaput lendir di saluran pernapasan karena menghasilkan toksin yang dapat merusak jaringan di daerah infeksi. Toksin akan menghasilkan membran berwarna abu-abu yang tersusun dari sel-sel mati, bakteri, dan zat lainnya. Apabila semakin membesar, membran itu dapat menghalangi sistem pernapasan.
Terdapat beberapa gejala yang mengindikasikan seseorang terkena difteri antara lain suhu tubuh mencapai 38°C, ada selaput putih keabu-abuan di tenggorokan, terasa nyeri untuk menelan, dan leher membengkak seperti leher sapi (bullineck). Selaput putih dan pembengkakan leher adalah gejala khas dari difteri. Sedangkan untuk suhu tubuh dan kesulitan menelan bisa juga terjadi pada orang yang terkena flu atau radang tenggorokan.
Jika Anda merasa mengalami gejala tersebut, langkah yang harus segera dilakukan adalah berkunjung ke dokter guna mendapatkan pengalaman. Sebab penyakit ini bisa menular ke orang lain dengan sangat cepat. Maka tak heran pada beberapa kasus difteri pasien harus masuk ruang isolasi. Pasien harus berada dalam satu ruangan khusus kurang lebih selama satu minggu.
Sementara itu, Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan, dr. Elizabeth Jane Soepardi, MPH, Dsc menuturkan ada cara yang bisa dilakukan masyarakat untuk mendeteksi difteri.
“Coba buka mulut orang yang dicurigai terkena difteri dan minta julurkan lidah. Lihat area di belakang lidah. Biasanya akan tertutup oleh lidah, tapi gunakan ujung sendok untuk menurunkan lidah. Kemudian perhatikan apakah ada selaput kotor di belakang lidah. Jika iya, ambil lidi yang ujungnya terdapat kapas untuk membersihkan selaput. Jika sulit dibersihkan dan susah lepas, kemungkinan itu bakteri difteri. Maka harus cepat dibawa ke rumah sakit,” tutur dr Elizabeth dalam diskusi “Redbons: Wabah Difteri, Dampak, dan Antisipasinya” di kantor redaksi Okezone, Jakarta Pusat, Selasa 12 Desember 2017.
(Helmi Ade Saputra)