DEMI mencegah perluasan kasus suspect KLB Difteri pemerintah mewajibkan tiga provinsi di Indonesia untuk memberikan imunisasi ulang kepada anak-anak. Dari tiga provinsi tersebut, terdapat 12 kota/kabupaten yang turut menjadi bagian dari program tersebut.
Imunisasi ulang atau Outbreak Respond Immunization (ORI) dilaksanakan pekan depan, mulai 11 Desember 2017. Semua puskesmas diperintahkan untuk menyiapkan logistik berupa vaksin TD, DPT, HB dan HiB.
Karena difteri merupakan satu penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi tersebut. Karenanya, pemerintah mengambil tindakan ORI agar penyebaran wabah penyakit ini tidak meluas.
BACA JUGA:
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI dr H M Subuh, MPPM, menegaskan, supaya orangtua mau mengulang pemberian vaksin kepada anaknya tanpa terkecuali. Dengan langkah ini, diharapkan 97% anak-anak terlindung dari penyebaran penyakit difteri.
"Orangtua harus memberikan imunisasi ulang kepada anaknya dari usia 1-<19 tahun. Tenaga medis juga harus mau mendekati masyarakat agar semua bisa diimunisasi," kata Subuh saat ditemui di Jakarta Pusat, baru-baru ini.
Adapun rincian jenis vaksin yang bisa didapatkan bayi hingga anak-anak yakni sebagai berikut:
- Anak usia 1-<5 tahun mendapatkan vaksin DPT, HB dan HiB.
- Anak usia 5-<7 tahun mendapatkan vaksin DT.
- Anak usia 7-<19 tahun mendapatkan vaksin TD.
Pelaksanaan ORI dilakukan sebagai langkah penanggulangan terhadap wabah difteri. Adapun jummlah kasus rawat inap dan pasien meninggal dunia paling banyak terdapat di DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat.
BACA JUGA:
Dari tiga provinsi tersebut ada 12 kota/kabupaten yang wajib melaksanakan ORI. Berikut daftarnya yang dirangkum Okezone.
- Kota Jakarta Barat
- Kota Jakarta Utara
- Kota Jakarta Timur
- Kota Jakarta Pusat
- Kota Jakarta Selatan
- Kota Depok
- Kota Tangerang Selatan
- Kota/Kabupaten Tangerang
- Kota/Kabupaten Bekasi
- Kota/Kabupaten Serang
- Kabupaten Purwakarta
- Kabupaten Karawang
Penyakit difteri proses penularannya sangat cepat, karena bisa terpapar lewat cairan air liur atau droplet. Jika seseorang terpapar dengan bakterinya, bisa tertular kapan saja. Risikonya akan sangat tinggi dialami oleh anak-anak atau orang dewasa yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap atau tidak mendapatkan sama sekali.
(Santi Andriani)