MINYAK goreng dan khasiat kesehatannya telah lama menjadi topik perdebatan bagi ilmuwan di seluruh dunia. Dengan berbagai jenis minyak di pasar, tidak mengherankan bahwa orang memperdebatkan minyak mana yang lebih sehat.
Minyak kedelai dan minyak kedelai hasil rekayasa genetika (GM) adalah 2 produk yang sifatnya sangat diperdebatkan. Namun, sebuah studi telah menemukan mitos bahwa minyak kedelai GM lebih sehat daripada minyak kedelai biasa, memperingatkan bahwa ini berbahaya bagi fungsi hati.
Menurut peneliti dari University of California-Riverside, minyak kedelai GM kurang menginduksi obesitas dan resistensi insulin dibandingkan minyak kedelai, namun pengaruhnya terhadap diabetes dan fatty liver sama dengan minyak kedelai. Tim tersebut menguji Plenish, minyak kedelai genetika yang diluncurkan DuPont pada 2014.
Plenish direkayasa untuk memiliki asam linoleat rendah, menghasilkan minyak yang serupa dengan komposisi minyak zaitun, dasar diet mediterania dan dianggap menyehatkan. Mereka membandingkan efek metabolik jangka panjang dari minyak kedelai dan minyak Plenish.
Studi ini juga membandingkan kedua minyak kedelai dan Plenish menjadi minyak kelapa, yang kaya akan asam lemak jenuh dan menyebabkan kenaikan berat badan paling sedikit di antara semua diet tinggi lemak yang diuji.