Selain berolahraga, dia mulai merombak dietnya. Byrne memutuskan untuk menghitung kalori makanan yang dikonsumsinya. Dia menghindari makanan yang memiliki banyak kalori dan dirasanya tidak perlu. Byrne mulai memastikan dirinya makan tiga kali sehari. Sebelumnya dia tidak pernah sarapan dan makan dalam porsi besar di siang hari serta rajin mengonsumsi junk food.
Byrne juga mengurangi porsi makannya walaupun awalnya dia ragu porsi itu bisa mengenyangkannya. Kebiasaan baru yang dilakukannya adalah olahraga setiap jam 5 pagi sebelum memulai aktivitas. Setelah berusaha dengan sangat keras, berat badannya sudah turun sebanyak 32 kg.
Baca Juga: Yuk Berenang dalam Gerbong Kereta Api, Berani Coba?
“Terkadang saya merasa sangat lelah. Tapi begitu teringat apa yang sudah saya lakukan dan bagaimana manfaatnya, saya benar-benar percaya bahwa itu telah mengubah hidup saya. Pemikiran itu terus mendorong saya untuk terus maju,” pungkas Byrne.
Motivasi lainnya adalah saat melihat suaminya yang lebih hidup sehat dibanding dirinya terkena penyakit Parkinson. Byrne ingin hidup lebih lama bersama pasangan jiwanya itu sebab dia yakin suaminya pasti akan membutuhkannya. Dia ingin lebih kuat untuk suaminya karena tidak tahu dampak Parkinson di kemudian hari.
(Renny Sundayani)