TENTANGAN keras menekuni dunia fesyen tak berhenti pada ayah saya. Keluarga besar pun juga tidak merestui pilihan saya. Padahal, bila dipikir-pikir saya ini dibesarkan dari keluarga berdarah seni, termasuk fesyen.
Barli kecil tinggal bersama nenek yang juga seorang perias pengantin, pembuat batik, dan seniman musik Sunda. Ibu saya juga pintar menjahit, bahkan mendorong anak-anaknya untuk membuat pakaian tanpa harus membelinya.
Saya pun sudah akrab dengan Pasar Mayestik, Aldiron, Blok M, dan toko-toko bahan karena kerap menemani nenek dan ibunda membeli keperluan menjahit pakaian. Tante saya, Corry Kastubi, adalah seorang desainer yang besar di era seperti Poppy Dharsono dan Ghea Panggabean. Poppy Hayono Isman, juga tante saya yang merupakan seorang desainer perhiasan.
Lulus dari Sekolah Menengah Atas 47 Jakarta, saya sempat meneruskan pendidikan di jurusan desain interior Fakultas Seni Rupa Desain Trisakti. Pada saat itu, saya sudah membuat dan menjual pakaian rancangan saya sendiri. Saya berdagang dan membantu teman-teman yang ingin membuat pakaian dan celana.
A post shared by Barli Asmara (@barliasmara) on Oct 19, 2016 at 9:49pm PDT
Memanfaatkan kenalan penjahit dari sang ibu, saya mulai berbisnis dengan teman-teman sepermainan. Jadi, kalau ada teman saya yang ingin minta dibuatkan celana atau pakaian, saya akan bilang iya. Bahkan, saya melayani untuk 24 jam.
Kemudian, saya sempat bekerja di butik dengan label Nui Masu. Kala itu, dukungan yang saya dapatkan dari keluarga masih setengah. Ayah saya, akhirnya mendukung dengan mengantarkan saya pergi kesana kemari, begitu pun dengan ibu saya. Meski begitu, mereka masih sedikit berharap jika saya menekuni pekerjaan di bidang yang lain.
Keluarga besar, seperti kakek dan nenek, menginginkan saya kalau bisa jangan menjadi desainer, melainkan menjadi seorang pebisnis. Padahal, menjadi desainer atau perancang mode juga bergelut dengan bisnis. Rupanya, alasan saya tidak mendapat restu menekuni bidang fesyen adalah karena mereka merasa 'desainer' tidak cocok untuk laki-laki. Pandangan mereka, desainer dekat dengan gaya hidup yang mewah dan glamor.
A post shared by Barli Asmara (@barliasmara) on Mar 22, 2016 at 8:37pm PDT
Nenek saya orangnya sangat dominan, beliau adalah tukang jahit, mahir membuat kebaya, dan bisa membuat pakaian sendiri. Sehingga tak heran bila ia merasa 'Lo tahu apa sih soal bikin-bikin baju?'. Tetapi, saya jalan terus saja dan tidak menjadikannya sebagai penghalang. Saya sadar bahwa kehidupan itu memang memerlukan banyak tantangan. Sisi eksternalnya bisa berasal dari komunitas, orang luar, atau keluarga kita sendiri.
Namun, lama-lama orangtua dan keluarga besar pun melihat perkembangan yang saya lakukan. Saya pun sudah tidak pernah meminta uang kepada mereka. Pendidikan di Trisakti saya tinggalkan. Saya beralih pada jurusan Komunikasi Bisnis di London School of Public Relations. Saya tidak mengenyam sekolah desain, semua saya lakukan secara otodidak.
Saya memutuskan untuk membuat butik sendiri. Seiring berjalannya waktu pun keluarga besar menerima meski karena pasrah. Hingga kini, setiap saya membuat pakaian, nenek saya suka masih ingin sedikit ikut campur. Misalnya, 'Ini tuh harusnya jangan begini'. Tapi, saya diamkan saja, yang namanya era dulu dan sekarang tentu berbeda, bukan?
A post shared by Barli Asmara (@barliasmara) on Mar 25, 2016 at 7:59pm PDT
Menjalani profesi sebagai desainer rupanya tidaklah mudah. Banyak pasang surut yang harus saya alami. Bahkan, di saat saya sudah mendirikan butik dan label sendiri, saya sempat jatuh sakit yang membuat diri saya harus vakum sejenak merancang pakaian.
Ingin tahu kelanjutan kisah seorang Barli Asmara? Nantikan kisahnya setiap hari pukul 20.00 WIB hanya di Lifestyle Okezone.com
(Dinno Baskoro)