SALAH satu kebiasaan masyarakat era modern adalah menghindari sinar matahari karena takut kulit berubah gelap. Stigma iklan yang mengatakan bahwa kulit gelap itu tidak cantik akhirnya terpatri pada pikiran masyarakat.
Padahal, sinar matahari pagi dapat memenuhi asupan vitamin D dalam tubuh. Hal ini juga diutarakan oleh Dr dr Fiastuti Witjaksono, MS, MSc, SpGK(K), Kepala Departemen Medik Ilmu Gizi RSU Cipto Mangunkusumo.
"Kekurangan vitamin D yang kurang bisa menyebabkan berbagai penyakit, termasuk penyakit autoimun," terang dr Fiastuti di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Senin 8 Mei 2017.
Di iklim yang tropis ini dengan sinar matahari yang benderang, dr Fiastuti mengatakan bahwa hampir semua wanita Indonesia kekuarangan vitamin D. Sebetulnya, menjemur diri di bawah sinar matahari perlu diedukasi kepada anak sejak dini.
Pasalnya, banyak anak zaman sekarang yang lebih memilih untuk menghabiskan waktunya bersenang-senang di dalam ruangan. Jarang pun anak-anak yang bermain dan berlarian di luar rumah bersama teman-temannya. Bahkan, kebiasaan ini bisa berdampak pada masa dewasa anak.
"Karena kita tidak memberikan edukasi pada masa anak-anak harus main di luar, supaya terpapar sinar matahari," ujar dr Fiastuti.
Ia menyarankan kepada setiap orang, perlu meluangkan waktu di pagi hari setidaknya 30 menit setiap hari, agar tubuh terpapar di bawah sinar matahari. Dengan demikian, kebutuhan tubuh akan vitamin D dapat terpenuhi.
(Helmi Ade Saputra)