PASTI Anda pernah mendengar obat pil kina yang dulu dikenal efektif mengobati malaria. Ternyata saat ini obat itu tak lagi ampuh mengobati penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk ini.
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI dr HM Subuh, MPPM menjelaskan, pil kina memicu efek sampingnya berbahaya bisa diminum pasien malaria. Karena itu, penggunaan obat ini sudah tidak ada lagi di masyarakat, terutama di zona merah endemis malaria.
"Pil kina sudah tidak dipakai lagi, tapi jadi opsi kedua. Efek sampingnya besar," kata Subuh saat ditemui di Kantor Kementerian Kesehatan RI, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Senin 17 April 2017.
Dia mengatakan, pemerintah telah menyediakan obat anti malaria yang sudah didistribusikan di semua wilayah endemis malaria. Obat ini lebih efektif mengurangi gejala malaria yang sangat mengganggu pasien.
Pengobatan malaria lebih efektif dan ampuh dengan menggunakan terapi kombinasi berbasis artermisinin based combination therapy (ACT). Obat ini dibagikan cuma-cuma yang bisa didapatkan di puskesmas.
"Setelah hasilnya malaria positif didiagnosa di laboratorium, obat ACT bisa dikonsumsi. Diminum berdasarkan dosisnya sampai sembuh," tambahnya.
Tak cuma itu, diagnosis malaria saat ini lebih mudah dan pasti hasilnya. Hasil laboratoriumnya juga sudah menggunakan mikroskop atau tes diagnosis cepat dengan rapid diagnostic test (RDTl).
(Helmi Ade Saputra)